<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; sanggar kelinci</title>
	<atom:link href="http://wearethepoets.wordpress.com/tag/sanggar-kelinci/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Mar 2009 09:33:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wearethepoets.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/124be1b9888904af467001c385d7425d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; sanggar kelinci</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wearethepoets.wordpress.com/osd.xml" title="Obral Obrol &#8220;Keluarga Poet&#8221;" />
		<item>
		<title>Report Playgroup Dira</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/25/report-playgroup-dira/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/25/report-playgroup-dira/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 14:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[Report]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar kelinci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Ah, setelah sempat tertunda hampir seminggu akhirnya sempat juga menulis posting ini.
Setelah 6 bulan menimba ilmu (halah), maksudnya merepotkan para Kakak di Sanggar Kelinci, akhirnya tgl 20 Desember yang lalu keluar juga hasil laporan perkembangan Dira.
Bagaimana isinya? Yah, tidak jauh beda dengan pengamatan Mamanya kok.
Sejauh ini perkembangan motorik kasar Dira bagus dan sesuai usianya walau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=252&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ah, setelah sempat tertunda hampir seminggu akhirnya sempat juga menulis posting ini.</p>
<p>Setelah 6 bulan menimba ilmu (halah), maksudnya merepotkan para Kakak di Sanggar Kelinci, akhirnya tgl 20 Desember yang lalu keluar juga hasil laporan perkembangan Dira.</p>
<p>Bagaimana isinya? Yah, tidak jauh beda dengan pengamatan Mamanya kok.</p>
<p>Sejauh ini perkembangan motorik kasar Dira bagus dan sesuai usianya walau koordinasinya masih belum halus. Kemudian sejak bermain di Sanggar Kelinci, Dira menjadi lebih fasih berkomunikasi walaupun pengucapan beberapa kata masih cadel. Kosa katanya pun semakin banyak dan, Alhamdulillah Dira sudah bisa membuat kalimat panjang yang terdiri atas lebih dari 3 kata.</p>
<p>Yang harus diperhatikan dari Dira adalah perkembangan motorik halusnya. Karena hingga sekarang Dira belum bisa menangani gerakan tangan dan jari-jemarinya. Nah, untuk itu disarankan supaya Dira lebih sering diajak meremas-remas Playdough, merobek kertas, gunting dan tempel, de el el. Pokoknya segala sesuatu yang diperlukan untuk mengasah gerakan jari-jemarinya.</p>
<p>Terus, penguasaan warna Dira masih belum konsisten. Sekali waktu dia bisa bilang itu warna kuning, lain waktu warna yang sama dibilang orange. Dan dia paling senang bilang warna hijau. Kenapa coba? Karena dalam lagu Balonku, yang meletus balon hijau. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mengenali angka cukup lumayan, walau masih tergantung moodnya dan baru kenal angka 1 dan 2. Mengucapkan bilangan 1-10 bisa, tapi konsep berhitung dia belum mengerti. Yah emang belum waktunya juga kan.</p>
<p>Oya, Dira terkadang terlalu berani. Pernah katanya, pas lagi bermain, tahu-tahu dia sudah memanjat 5 anak tangga perosotan (tangga besi yang jarang-jarang itu loh) tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ccck&#8230;. ccck&#8230; calon adventurer sepertinya.</p>
<p>Dira has a big imagination. Jadi, hampir tiap bersekolah, dia akan selalu mengambil buku cerita. Pertama halaman buku dibolak-balik yang kemudian dilanjutkan dengan mengarang cerita sendiri (yang tentunya diceritakan untuk dirinya sendiri). Yang lucu, pernah saking serunya, itu buku ditendang-tendang sambil ngomong, &#8220;Nana pu miong, nana&#8230;&#8221; Hehe gak tahu deh dia lagi cerita apa.</p>
<p>Yang lain lagi, Dira tidak pernah bisa diam. Selalu bergerak ke sana kemari. Belum bisa konsentrasi mengerjakan sesuatu dan sedang senang jadi &#8220;follower&#8221; dan &#8220;imitator&#8221;. Hobi utamanya, selain bercerita sendiri, adalah bernyanyi dan menari (walau gerakannya amburadul). Nah, yang buat hidung Mama kembang kempis adalah, walau seheboh apa pun di kelas, saat ada pembacaan doa, dia akan langsung duduk diam, mengangkat kedua tangannya dan ikut berdoa. Setelah selesai, yah balik lagi ke asal.</p>
<p>Begitulah sekilas isi laporan perkembangan Dira. Intinya di luar hal-hal yang harus diperhatikan, perkembangan Dira normal.</p>
<p>Bangga? Ya! Bahagia? Ya! Bersyukur? Ya ya ya! Semoga Dira sama bangga, bahagia dan bersyukur yah punya Papa dan Mama seperti kami. Amin.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=252&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/25/report-playgroup-dira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Besok bagi report</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/19/besok-bagi-raport/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/19/besok-bagi-raport/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:58:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[laporan sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Report]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar kelinci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Cihuyyy&#8230; besok Dira bagi raport.
I wonder what the teacher will say about Dira, entertaining, amusing, too creative, too 0verdoing on something, etc. Yang jelas sih Dira masih harus mendalami soal warna  
Yah, apa pun laporannya teteup buat Mama kemajuan Dira cukup pesat selama sekolah di Sanggar Kelinci (thanks buat para kakak pengajar).
Contoh, dari sisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=249&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cihuyyy&#8230; besok Dira bagi raport.</p>
<p>I wonder what the teacher will say about Dira, entertaining, amusing, too creative, too 0verdoing on something, etc. Yang jelas sih Dira masih harus mendalami soal warna <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Yah, apa pun laporannya teteup buat Mama kemajuan Dira cukup pesat selama sekolah di Sanggar Kelinci (thanks buat para kakak pengajar).</p>
<p>Contoh, dari sisi komunikasi, Dira tambah mahir serta lancar berkata-kata dan bahkan bisa merangkai kalimat walau masih banyak pengucapan kata yang belum tepat. Mengucapkan angka dari 1-10 juga sudah lancar walau konsep berhitungnya belum mengerti (memang belum waktunya juga toh).</p>
<p>Yah, pokoknya Mamanya cukup senang melihat perkembangan anaknya. Termasuk perkembangan cara ngambeknya yang bikin tambah pusing (Pikir-pikir kenapa jadi mirip Mamanya yah kalau lagi ngambek? Pengaruh genetik sepertinya)</p>
<p>Hehe, yah tungguin aja deh hasil laporan sekolah Dira. *sigh, kalo jadi pindah ke Paiton, kayaknya bakalan buka homeschooling dulu nih sampai bertemu sekolah berkualitas baik seperti Sanggar Kelinci*</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=249&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/19/besok-bagi-raport/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Susahnya toilet training</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/02/susahnya-toilet-training/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/02/susahnya-toilet-training/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 04:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Mengompol]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar kelinci]]></category>
		<category><![CDATA[toilet training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Topik toilet training seperti cukup sering dibahas di majalah parenting yang beredar di Indonesia. Bolak-balik baca di berbagai majalah ini, googling di internet dan bahkan diskusi dengan teman-teman yang berpengalaman (alias sudah punya anak lebih dari satu), teteup&#8230; susah banget pas praktekinnya. Contohnya ke Dira nih. 
Dari sejak usia 6 bulan, Dira sudah dibiasakan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=217&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Topik toilet training seperti cukup sering dibahas di majalah parenting yang beredar di Indonesia. Bolak-balik baca di berbagai majalah ini, googling di internet dan bahkan diskusi dengan teman-teman yang berpengalaman (alias sudah punya anak lebih dari satu), teteup&#8230; susah banget pas praktekinnya. Contohnya ke Dira nih. </p>
<p>Dari sejak usia 6 bulan, Dira sudah dibiasakan untuk pup di kloset, dengan dipegangi tentunya. Bahkan, mulai usia 9 bulan, aku mengikuti saran teman untuk mendudukkan si anak kala tengah malam terlihat gelisah. Well, it worked. Karena Dira kalau tengah malam terlihat gelisah (badan berguling kiri-kanan dan kaki ditendang-tendang), saat didudukkan di kloset, pasti langsung pup atau pipis. Nah, cara ini berhasil hingga Dira menginjak usia 14 bulan.</p>
<p>Setelah usia 14 bulan, Mamanya mulai merasa lelah fisik dan tidak bisa bangun tengah malam (tidurnya kayak badak, pulas banget) buat melakukan ritual di atas. Why? Karena sejak lahir, bahkan sampai sekarang, tidur malam di hari Senin-Kamis tidak ada yang namanya bala bantuan dari suami. Jadi, semua benar-benar dilakukan sendiri. Makanya, alhamdulillah banget ASInya lancar sehingga tidak harus bangun malam buat bikin sufor (= susu formula). Baru Jumat malam saat Papa Poet tiba di rumah, ada <em>sedikit</em> bala bantuan di malam hari. Tapi yah, gak terlalu pengaruh juga sih dengan adanya Papa Poet. Soalnya sejak Dira mulai makan padat, Papanya jadi geli kalau disuruh cebokin pantat Dira setelah pup. Akhirnya, sebagai penyelesaian masalah ini, Dira kalau tidur dikasih disposable diaper (M*** P*** idolaku. Soalnya pakai yang lain, punggung bawah Dira selalu timbul ruam kemerahan).</p>
<p>Pakai diaper di malam hari terus berlanjut hingga Dira berusia 21 bulan. Sejak Dira dimasukkan ke dalam playgroup, pemakaian diaper agak berkurang. Soalnya, selama di sekolah Dira tidak diperbolehkan untuk memakai diaper sehingga bisa dilatih toilet training. Well, jelas dong aku senang dengan agenda ini karena sesuai dengan tujuan. Cuma, efek dari kebiasaan melepas diaper adalah Dira jadi tidak mau pipis/pup di diaper, kecuali benar-benar terpaksa. Bahkan saat tidur pun dia tidak mau pipis di diaper sehingga sering kali di pagi hari diapernya masih kering.</p>
<p>Awalnya sih Dira bisa mengikuti agenda toilet training ini dengan baik, walaupun masih belum bisa membedakan mana pipis dan mana pup. Terkadang mau pipis dibilang ee&#8217;, dan sebaliknya. Selain itu, Dira selalu memberikan tanda-tanda fisik. Misalnya saat mau pipis, pasti dia akan memegangi perut bawahnya dan merapatkan kedua kakinya. Sedangkan saat mau pup, dia akan terlihat gelisah dan berlarian kesana kemari seolah mencari tempat yang nyaman. Bahkan biasanya, dia akan berjongkok di pojok ruangan, dan&#8230; pup di celana. Makanya orang dewasa yang ada di sekitar Dira harus jeli mengamati tanda-tanda ini. </p>
<p>Selama masa ini, Dira kalau ditanya mau pipis/pup masih menjawab dengan baik dan bisa diajak kerja sama. Tapi, setelah berulang tahun yang ke-2 (alias 24 bulan), Dira seperti memasuki fase &#8220;I already know what I need to do for myself&#8221;. Ini berlaku di semua kegiatannya, mulai dari acara makan sampai toilet training. Berhubung cukup banyak majalah yang membahas mengenai &#8220;terrible two&#8221;, membuatku lumayan mengerti bahwa dalam fase ini si anak mulai punya kehendak sendiri dan tidak mau diatur oleh siapa pun.</p>
<p>Inilah yang sedang aku alami dan baru merasa betapa susahnya mengajarkan toilet training pada Dira. </p>
<p>Walaupun sudah diusahakan untuk membuat toilet training sebagai rutinitas, yaitu pipis setelah bangun tidur dan sebelum tidur, kok sepertinya susah sekali membuat Dira mengikuti hal ini. Bahkan, sejak dia semakin pintar berkomunikasi, kalau <del datetime="00">disuruh </del>ditawarkan untuk pipis/pup, akan dijawabnya dengan 1 kalimat yang sama,&#8221;Tadi udah kan.&#8221; </p>
<p>Contoh percakapannya:<br />
&#8220;Dira, mau pipis gak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Ga mau.&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Beneran gak mau? Mama mau pipis nih. Temenin yuk.&#8221; lanjutku lagi.<br />
&#8220;Akyu ga mau pipisy, Tadi udah kan, Ma?&#8221; jawabnya lagi dengan pandangan mata berusaha untuk meyakinkan.<br />
&#8220;Bener yah? Nanti kalau mau pipis atau ee&#8217;, bilang Mama loh. OK?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Ote..&#8221; jawabnya.</p>
<p>Ujung-ujungnya dari percakapan di atas, yah tetap saja Dira mengompol. Yang suka bikin aku kesal dan berakhir dengan omelan dini hari adalah kalau 2 jam sebelum tidur Dira minum susu botol (biasanya ditawarkan sama mbak Mis) dan menjelang tidur menolak tawaran untuk pipis, Dira pasti mengompol. Aku kesal karena jadi serba salah antara keinginan untuk memakaikan diaper dan melatih Dira untuk toilet training. Belum lagi mengingat fakta bahwa seprai harus diganti lagi karena sudah kali keberapa diompolin. *sigh*</p>
<p>Lainnya lagi yang bikin aku bingung adalah bagaimana menghilangkan kebiasaan Dira yang selalu mengutamakan untuk melakukan kegiatan lainnya dan menahan panggilan alamnya, misalnya saat sedang main dan menonton. Bahkan, hal ini juga terjadi di sekolah, dimana kalau Dira sibuk melakukan kegiatan sekolah yang menyenangkan dirinya, saat ditawari untuk pipis oleh Kakak Sanggar Kelinci, Dira akan menolak sehingga akhirnya berujung dengan ompolan. </p>
<p>Aduuuhhh! Kesal deh dengan urusan toilet training ini. Benar-benar butuh saran yang tepat cara mengatasinya. Soalnya kasihan juga Dira kena omelan terus. Takut jadi stress dan malah gagal belajar toilet training. Hmm, apa sebenarnya Dira belum cukup siap yah? </p>
<p>Pussssiiiingggg!! </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=217&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/12/02/susahnya-toilet-training/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dira sakit lagi (bagian 1)</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/08/dira-sakit-lagi-bagian-1/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/08/dira-sakit-lagi-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 03:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mama]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Hospital Cinere]]></category>
		<category><![CDATA[rawat inap]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar kelinci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya aku mau menulis posting ini dari minggu lalu nih. Tapi ternyata, situasi dan kondisi sehubungan dengan sakitnya Dira ini akhirnya mengakibatkan dia harus dirawat inap di Hospital Cinere selama 1 malam sehingga ceritanya jadi panjang.
Ada apa dengan Dira sampai harus mengalami rawat inap? Kronologisnya seperti yang akan Anda baca berikut ini (halah, gak nahan sama bahasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=125&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebenarnya aku mau menulis posting ini dari minggu lalu nih. Tapi ternyata, situasi dan kondisi sehubungan dengan sakitnya Dira ini akhirnya mengakibatkan dia harus dirawat inap di Hospital Cinere selama 1 malam sehingga ceritanya jadi panjang.</p>
<p>Ada apa dengan Dira sampai harus mengalami rawat inap? Kronologisnya seperti yang akan Anda baca berikut ini (halah, gak nahan sama bahasanya yah?). </p>
<p><strong>Sabtu, 30 Agustus 2008</strong></p>
<p>Cerita dimulai hari Sabtu. Dari jam 9 pagi hingga jam 12 siang, aku, Dira dan mbak Mis berkunjung ke kelompok bermain Dira karena ada acara &#8220;Dongeng Islami&#8221; menyambut bulan Ramadhan. Selama acara berlangsung, Dira benar-benar tidak bisa diam. Saat teman-temannya duduk bersila dan menyimak pertunjukan dari kelas Yellow, TK A dan TK B, Dira malah sibuk ngoprek-ngoprek kelas sebelah. Kemudian, ketika sang pendongeng memperkenalkan diri (namanya Kak Eko) dan temannya menyimak, Dira malah berdiri di tengah ruangan sambil bersidekap dan melihat ke arah Kak Eko dengan serius. Kak Eko sampai berkata,&#8221;Waduh, saya takut nih ada melototin saya,&#8221;. Dan, selama acara dongeng berlangsung, Dira sibuk dengan usahanya untuk maju ke panggung hingga akhirnya harus dipangku oleh salah satu kakak Sanggar Kelinci tepat di depan panggung.</p>
<p>Acara dongeng ini memang akhirnya berakhir dengan lancar dan ditutup dengan acara foto-foto. Yang lucu, saat difoto, Dira yang duduk di depan malah sibuk melihat temannya yang di belakang sehingga akhirnya yang terfoto hanya rambutnya. Saat take ke-2, eh Dira malah maju ke depan buat mengambil kamera kak Viera. Cckk&#8230; cckk&#8230; Satu hal yang cukup menggugah Dira adalah saat teman-teman dari kelas TK B menarikan tari Saman. Dira langsung memperhatikan dengan serius gerakan yang dibuat dan kemudian mencoba untuk menirunya, walau hasilnya masih berantakan. Lucu!</p>
<p>Setelah selesai acara, kita bertiga pulang dan mampir terlebih dahulu ke pasar Pondok Labu untuk membeli bahan membuat kue kering dan wadah toplessnya. Dira tertidur dengan sukses selama perjalanan di angkutan umum.</p>
<p>Sore harinya, Papa Poet mendadak memutuskan untuk pergi berbelanja bulanan ke Carrefour. Aduh, si mbak Mis tidak bisa ikut karena sedang dalam proses membuat kastengel. Yah, jadinya kita pergi bertiga deh. Selama di Carrefour, alhamdulillah Dira tidak rewel dan mau didudukan di trolley. Cuma yang bikin kesal adalah kejadian yang bikin Dira tidak makan malam tepat waktu. Jadi, saat aku dan Dira sedang menuju area frozen foods, kita bertemu dengan Papanya. Yah, otomatis aku minta tolong Papa buat mendorong trolley dan menunggu selama aku dan Dira mencari nuggets merk Champs. Entah kenapa, mendadak Papa Poet pergi mendorong trolley menjauhi area ini. Aku berusaha menyusul, namun ternyata sudah menghilang. Aku telpon Papa Dira.</p>
<p>Mama Poet : Pa, trolleynya ditaruh dimana?<br />
Papa Poet : Di dekat biskuit<br />
Mama Poet : Yang dimana? Yang di tengah-tengah?<br />
Papa Poet : Iya. Cari aja.</p>
<p>Aku, sambil menggendong Dira dengan tangan kiri dan menenteng 1 bungkus nugget @ 1 kg, menyusuri area tengah dimana deretan promosi biskuit untuk mencari trolley. 1 keliling, 2 keliling&#8230; tidak ketemu. &#8220;Where the hell is the trolley?&#8221; said I, becoming unpatient. Aku telpon lagi.</p>
<p>Mama Poet : Dimana sih Pa? Gak ketemu nih. Mana aku capek lagi gendong Dira sambil bawa nugget.<br />
Papa Poet : Yah dekat biskuit. Cari aja<br />
Mama Poet : Heeeh, biskuit kan banyak Pa. Yang di tengah gak ada tuh trolleynya. Dimana sih tepatnya? Beneran di area tengah?<br />
Papa Poet : Iya, coba dicari.</p>
<p>Aku kesal. Bagaimana tidak? Sudah tangan dan punggung pegal, masih harus disuruh mencari trolley yang tempatnya tidak dideskripsi dengan benar. Lagipula, yang buat aku semakin kesal adalah, kenapa sih trolleynya tidak ditinggal dekat area nuggets jadi aku tidak perlu susah mencari lagi? Akhirnya aku mengajak Dira keluar dari area Carrefour dan berjalan menuju ke toilet. Telpon berdering.</p>
<p>Papa Poet : Gimana? Ketemu gak?<br />
Mama Poet : Enggak. Di mana sih taruhnya? Capek nih.<br />
Papa Poet : Gitu aja gak bisa nyari. Di dekat biskuit.<br />
Mama Poet : Gak ada. Aku dah keliling beberapa kali di biskuit tengah situ. Gak ketemu trolleynya.<br />
Papa Poet : Trus, sekarang kamu dimana?<br />
Mama Poet : Keluar. Aku mau pipis dulu.<br />
Papa Poet : Ngapain keluar?<br />
Mama Poet, dengan agak membentak : Aku pipis dulu!<br />
Klik, telpon ditutup oleh Papa Poet.</p>
<p>Ketika sampai di toilet, niat untuk buang air kecil lenyap. Toiletnya penuh sekali. &#8220;Aduh Dira, kita naik lagi deh. Mama tahan pipis aja deh,&#8221; ujarku pada Dira.</p>
<p>Aku dan Dira naik, ketika hendak berbelok kiri, aku lihat Papa Poet sudah mengantri di kasir. Aku hampiri dia. Ppfffh&#8230; mukanya kaku, cemberut dan diam. Marah dia! Aku jelas semakin kesal, pikirku,&#8221;Harusnya gue yang marah, kenapa dia yang cemberut? Sebel ih!&#8221;</p>
<p>Setelah barang belanjaan dibayar, kami keluar dari Carrefour. Saat itu sudah pukul 7 malam. Papa Poet berjalan mendorong trolley pertama dan aku mendorong trolley kedua tepat di belakangnya. Aku sempat berkata, &#8220;Pa, cari makan dulu dong! Dira belum makan nih dan tidak bawa bekal juga dari rumah,&#8221;. Papa Poet terus berlalu menuju mobil. Aku pikir, &#8220;Ah, mungkin menaruh barang belanjaan dulu,&#8221;. Setelah selesai membenahi belanjaan ke mobil, Papa Poet naik ke tempat duduk pengemudi. &#8220;Pa!&#8221; kataku,&#8221;Dira belum makan nih. Beli dulu yuk,&#8221;. Tanpa ba bi bu, Papa langsung menstarter mobilnya sehingga mau tidak mau aku dan Dira ikut masuk mobil. Aduh, hatiku terasa &#8216;ngenes&#8217; (sedih, kesal, marah, benci, campur aduk). Egois sekali sih orang ini! Kesian kan anaknya belum makan.</p>
<p>Sepanjang perjalanan pulang yang sangat macet sekali, Papa Poet terus berdiam diri. Aku dan Dira menghibur diri dengan sibuk bernyanyi sambil memakan snack astor. Untung di mobil selalu sedia air mineral sehingga tidak takut kehausan. Kami akhirnya sampai rumah pukul 9 malam. Dira kemudian tertidur pukul 10 malam dan cuma sempat makan 2-3 suap nasi dan sayurnya.</p>
<p><strong>Minggu, 31 Agustus 2008</strong></p>
<p>Papa Poet mau bicara kembali. Hari ini kita berencana pergi jalan-jalan menghabiskan energi (mumpung belum masuk bulan puasa). Tujuan Papa Poet adalah Ratu Plaza. Kali ini buat Dira disiapkan bekal makan siang dan malam dengan menu nasi, mie goreng dan sup udang. Setelah memarkirkan mobil di Plaza Senayan, kami makan siang di food court, Fiesta steak. Dira ikut makan kentang (di mobil sih Dira sudah makan duluan) dan minum orange juice. Kemudian kami berjalan ke arah Ratu Plaza dan melintasi area parkir PS. Sepanjang perjalanan ke Ratu Plaza, Dira berlari dengan lincahnya. Aku sampai kalang kabut mengejarnya. &#8220;Dira!&#8221;, teriakku,&#8221;Hati-hati, banyak mobil loh Nak!&#8221;</p>
<p>Selama di Ratu Plaza, Dira tetap ceria dan sibuk berlari hilir mudik. Bahkan Dira sempat terpeleset dan bilang,&#8221; Adyuhh, tatat Diya tatit Ma,&#8221;. Dira juga sempat pup di pampers dan lumayan bikin heboh karena pupnya agak cair sehingga ada yang mengalir keluar pampers (padahal pakaian ganti ditinggal di mobil). Karena hal ini, kami terburu-buru meninggal Ratu Plaza menuju PS kembali. (Pup ini sebenarnya adalah pertanda pertama sebelum Dira mulai muntah)</p>
<p> Sepulang dari Ratu Plaza, kami mampir ke Cinere Mall karena Papa Poet mau mencukur rambutnya. Selama menunggu Papa Poet, aku dan Dira melihat ke toko sepatu Bata dan berhasil membeli sepasang sendal dan sepasang sepatu kets. Semuanya untuk Dira. Dari toko sepatu, kami ke ATM BCA kemudian ke ATM Mandiri. Memang nasib kurang beruntung. Saat bertransaksi di ATM Mandiri, mendadak Cinere Mall mati lampu. Yah, kartu ATM-nya tertelan. Aduh, macam-macam saja. Kemudian kita menyusul Papa Poet ke lantai 3 dan sampai di barbershop dengan terengah-engah (eskalatornya mati hiks). </p>
<p>Pukul 7 malam kami keluar dari Cinere Mall menuju ke rumah Mamaku (Nenek Dira). Aku menyiapkan makan malam Dira. Suapan pertama masuk, hap! Suapan kedua, masuk juga dan 3 detik kemudian huekkk&#8230; Dira muntah. &#8220;Dira!&#8221;, teriakku. &#8220;Kenapa sih dimuntahin? Aduh, mana mobilnya baru dicuci deh.&#8221; Aku masih terus ngedumel ketika membersihkan tubuh Dira dan mengganti bajunya. (Maaf yah Nak, soalnya Mama capek banget seharian menggendong Dira! Jadinya terbawa emosi)</p>
<p>Sesampai di rumah Mamaku, Dira masih mau menelan 1 suap makanannya. Ketika suapan kedua masuk, byurrrr&#8230; Dira muntah menyembur dan sebagian muntahannya masuk ke dalam mangkok makanannya. &#8220;Aduh, Dira, kenapa kamu? Masuk angin yah?&#8221; tanyaku. Setelah membersihkan tubuh Dira (kali ini tidak ganti baju karena sudah habis persediaannya), kami pulang ke rumah. Sambil mendekap tubuh Dira, aku memasuki rumah dengan lelah dan sedih. Kenapa lagi sih anakku ini? Muntahnya kok juga menyembur seperti itu? </p>
<p>Sementara pertanyaan terus berkelebat, Dira masih terus muntah, setelah minum susu, setelah disusui. Tubuh Dira sempat aku balur dengan bawang merah, minyak telon, minyak kayu putih dan segala usaha lainnya. Terhitung sejak muntah pertama dan kedua, Dira masih terus muntah sebanyak 6 kali mulai dari pukul 9 malam hingga pukul 3 dini hari, saat sahur di hari pertama puasa. Tipe muntahnya sama, menyembur. Terlihat sekali Dira mulai lemas dan tidak bergairah. Nak, kasihan kamu.</p>
<p><strong>Senin, 1 September 2008</strong></p>
<p>Menjelang pagi hari, tubuh Dira mulai menghangat dan mencapai 39 derajat Celcius. Aduh, sedih banget! Aku akhirnya memutuskan untuk madol lagi dari kantor dengan surat cinta karena menghemat jatah cuti buat persiapan Lebaran dan rencana ke Surabaya (maaf yah Bos!). Di hari Senin itu, Dira mulai ogah-ogahan makan, walaupun sudah dibuatkan bubur. Maunya hanya nenen. Sempat ketika siang hari Dira mau makan buburnya, dia minta nenen dan entah karena perutnya tidak enak atau kepenuhan, akhirnya Dira muntah kembali. Dira juga sempat pup dan konsistensi tinjanya mulai cair walaupun masih ada ampas makanan di dalamnya.</p>
<p>Siang harinya aku ajak Dira ke dokter anak di Hospital Cinere. Sayang, dokter langgananku baru praktek nanti malam. Mau menunggu kok rasanya terlalu lama. Setelah konsultasi ke dokter, akhirnya Dira diberi resep beberapa obat berikut : Vometa, Lacto-B dan Racikan (isinya Braxidin, Heptasan, Buscopan dan 1 jenis obat lagi yang aku lupa namanya) dan dianjurkan untuk memperbanyak asupan cairan terutama elektrolit seperti Pedialyte atau boleh juga Pocari Sweat.</p>
<p>Hingga Senin sore, Dira masih terus muntah dan semakin mengkhawatirkan karena isi muntahnya hanya cairan berwarna kuning bening dan pupnya sangat cair bahkan menyembur seperti saat kita berkemih. Akhirnya karena pertimbangan takut kehilangan banyak cairan, dengan terpaksa Dira aku beri obat antimuntah dan racikan dari dokter (aduh, padahal sangat irrasional sekali isinya). Muntah sempat berhenti, namun Dira masih mencret, nafsu dan makannya menurun dengan drastis. Perut Dira pun sangat kembung sehingga akhirnya aku coba pakai cara tradisional buat mengurangi kembung, daun jarak dibakar hingga layu, kemudian ditempelkan ke perut si anak yang dibalur dengan minyak telon/kayu putih. Lumayan sih, tapi memang hanya bersifat temporer.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Bersambung ke bagian 2 (soalnya capek nulis nih).  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/125/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/125/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=125&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/08/dira-sakit-lagi-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari kedua Dira di kelompok bermain</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/07/17/lanjutan-dira-sekolah-hari-kedua/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/07/17/lanjutan-dira-sekolah-hari-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 09:58:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar kelinci]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Hari Kamis ini adalah hari kedua Dira ke kelompok bermainnya dan kali ini tanpa ditemani sama Mama yang harus bekerja.
Aku menelpon mbak Mis ke rumah untuk bertanya mengenai keadaan Dira hari ini. Kata mbak Mis begini,&#8221;Tadi Dira nangis di sekolah. Pintu ruang kelasnya kan ditutup, tidak seperti hari Selasa tuh Mbak. Mungkin karena itu dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=43&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari Kamis ini adalah hari kedua Dira ke kelompok bermainnya dan kali ini tanpa ditemani sama Mama yang harus bekerja.</p>
<p>Aku menelpon mbak Mis ke rumah untuk bertanya mengenai keadaan Dira hari ini. Kata mbak Mis begini,&#8221;Tadi Dira nangis di sekolah. Pintu ruang kelasnya kan ditutup, tidak seperti hari Selasa tuh Mbak. Mungkin karena itu dia nangis.&#8221;. Aku tertawa. &#8220;Akhirnya sama ibu gurunya digendong keluar dan aku disuruh masuk ke dalam deh.&#8221;, lanjut mbak Mis. &#8220;Trus lama nangisnya?&#8221;, tanyaku. &#8220;Yah pas makan bekal juga masih nangis. Bekal kuenya juga tidak dimakan. Malah makan roti coklat yang dikasih temannya.&#8221;, cerita mbak Mis. Aku tertawa lagi. Hmm, ternyata anakku bisa menangis juga akhirnya. Tak apa-apa. Toh Dira harus belajar beradaptasi yah.</p>
<p>Sore harinya aku menerima email dari Kak Viera, guru Dira di Sanggar Kelinci. Isinya demikian:</p>
<blockquote><p>Ass, mba Uke, bagaimana cerita Indira sekolah sudah 2 <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">hari ini</span>, Indira sudah pintar ya, berani di kelas tanpa di temani mamanya, namun hari ini menangis, mungkin gara-gara melihat banyak temannya yang ditemani dan mulai ngantuk. Indira mulai menangis memanggil mama, namun setelah mbanya masuk Indira sudah tdk menangis lagi ya&#8230;.. Kemarin dan hari ini Indira pun sudah pipis di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">kamar mandi</span> sekolah. Mudah-mudahan Indira senang ya sekolahnya. Salam bwt Indira</p></blockquote>
<p>Dan balasanku buat kak Viera adalah berikut:</p>
<blockquote>
<div>Hehehe iya kak Viera, tadi mbaknya juga cerita.</div>
<div>Mungkin sih karena pintunya ditutup kali jadi dia panik <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </div>
<div>Lagipula memang tadi pagi bangun jam 5.30, jadi mungkin sudah mulai mengantuk jg.</div>
<div>Biasa kalau dia uring2an bawaannya jadi begitu.</div>
<div>Semoga besok2 sudah tambah mandiri dan terbiasa di antara teman2nya.</div>
<div>Dan semoga kak Viera dan kakak2 yg lain sabar menghadapi Dira <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</div>
</blockquote>
<p>Terus terang kadang Mama berpikir, tepat tidak yah keputusan Mama buat kirim Dira ke kelompok bermain? Hati kecil Mama sih sebenarnya agak berat karena Dira masih kecil. Tapi pertimbangan pertama Mama masukin Dira ke sana adalah supaya Dira kenal dengan anak-anak sebaya karena teman Dira di lingkungan rumah rata-rata berusia 4-5 tahun. Dan dari beberapa temannya itu, hanya 1 orang yang sering berkunjung ke rumah dan usianya hampir 4 tahun. Jadi Mama pikir, Dira juga perlu kenal dengan teman yang umurnya sebaya dan setidaknya punya emosi yang hampir sama.</p>
<p>Beberapa bulan yang lalu sih tetangga kita sempat mengajak Dira untuk trial di tempat lain, namanya Taman Bermain Tupai. Yah, dari segi biaya bulanan sih lebih murah di Tupai daripada Sanggar Kelinci. Cuma setelah aku tanya ke mbak Mis, ternyata di sana tidak dilakukan pemisahan kelas sesuai usia sehingga semua bercampur baur dalam 1 ruangan besar dengan hanya 2-3 orang pengawas. Akibatnya, anak yang lebih besar main sikut-sikutan kalau berebut mainan. Yah, Mama pikir kalau begitu sepertinya kurang baik dampaknya buat si anak.</p>
<p>Jadi, pilihan terakhir adalah Sanggar Kelinci. Setidaknya sesuai kriteria yang Mama cari antara lain tidak bilingual, 1 kelas hanya 10 anak dengan 2 guru, biaya tidak terlalu mahal, gampang dicapai dengan kendaraan umum, kegiatannya untuk usia 2-3 tahun hanya bermain dan aktifitas lainnya (tidak dipaksa belajar calistung), dan yang lumayan penting adalah anak diajarkan untuk berdoa (&#8220;Mamin&#8221;, begitu kata Dira saat mengucapkan &#8220;Amin&#8221;).</p>
<p>Sebenarnya sih Papa Poet sepertinya lebih sreg kalau Dira masuk ke Putik-Cinere. Karena selain programnya bagus, tempatnya juga bagus (he he he) dan Dira sangat senang kalau ke sana. Cuma yah hambatannya lumayan banyak, seperti biaya masuknya lumayan mahal, biaya bulanan juga lumayan, dan lokasi tempatnya tidak mudah dicapai dengan kendaraan umum (ada sih penawaran jemputan tapi biaya bulanannya jadi ekstra banyak deh). Mungkin nanti bisa jadi pilihan kalau Dira mau masuk ke kelompok usia 3-4 tahun atau saat mau TK saja.</p>
<p>Pokoknya sekarang Mama akan tetap memantau Dira. Kalau Mama rasa Dira tidak enjoy masuk kelompok bermain, mungkin tidak akan dilanjutkan. Atau 1 tahun ini aktif, tahun depan di rumah saja. Yah kita lihat saja nanti. Yang paling penting adalah kalau Dira senang, Mama ikut senang. Kalau Dira kelihatan terbebani dan tidak enjoy (seperti waktu trial di Tumble Tots), yah let&#8217;s stop the playgroup. </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=43&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/07/17/lanjutan-dira-sekolah-hari-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dira ikut kelompok bermain</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/07/16/dira-ikut-kelompok-bermain/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/07/16/dira-ikut-kelompok-bermain/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 09:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok bermain]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar kelinci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 15 Juli 2008. Hari ini adalah hari pertama Dira mulai masuk kelompok bermain. Tepatnya di Sanggar Kelinci yang berlokasi di daerah Gandul-Cinere.
Entah mengapa di hari pertama sekolah ini, Dira bangun agak siang. Kalau biasanya jam 6 pagi dia sudah melek, hari ini sampai jam 6.30 masih tertidur pulas sambil memeluk Papa Poet. Hmm, sepertinya ini yang jadi penyebab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=36&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Selasa, 15 Juli 2008. Hari ini adalah hari pertama Dira mulai masuk kelompok bermain. Tepatnya di Sanggar Kelinci yang berlokasi di daerah Gandul-Cinere.</p>
<p>Entah mengapa di hari pertama sekolah ini, Dira bangun agak siang. Kalau biasanya jam 6 pagi dia sudah melek, hari ini sampai jam 6.30 masih tertidur pulas sambil memeluk Papa Poet. Hmm, sepertinya ini yang jadi penyebab yah. Tidur berpelukan sama Papa bikin Dira betah tidur. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, tahapan Dira sampai akhirnya bangun adalah dibisikin &#8220;Dek, bangun, sudah siang nih!&#8221;. Reaksinya, melek terus nangis sambil ngomong &#8220;Mama, &#8217;eno&#8221; (maksudnya &#8220;Mama, gendong&#8221;). Selanjutnya Dira mengajak Mamanya bobok lagi, &#8220;Ma, bubok, bubok, nene&#8221;. Dan, kita pun berpindah kamar untuk tiduran lagi sambil nenen.</p>
<p>Setelah 10 menit, Mbak Mis masuk,&#8221;Loh kok nenen? Katanya mau sekolah?&#8221;. Dira langsung melek dan mencabut mulutnya sambil melihat Mbak Mis (mungkin mikir juga). &#8220;Lolah?&#8221;, tanya Dira. &#8220;Iya, kan hari ini Dira sekolah yah. Makanya sekarang makan dulu, mandi terus berangkat deh. Mama sengaja cuti loh hari ini.&#8221;</p>
<p>Akhirnya 1 jam berikutnya, kita siap berangkat ke sekolah. &#8220;Dah Papa! Dadah Papa!&#8221;, teriak Dira sambil melambai. Kami berangkat ke sekolah Dira naik angkot, tentunya (karena jaraknya tidak terlalu jauh).</p>
<p>Dan ternyata&#8230; jalanan dari Gandul ke arah Pondok Labu macet sekali! Penyebabnya? Perbaikan jalan yang entah mengapa dilakukan hari Senin. Padahal hari Sabtu sebelumnya kita ke arah sana tidak ada perbaikan apa pun. Kesal banget! Seharusnya paling lama sampai dalam waktu 15 menit, karena macet jadi mulur hingga 40 menit. Itu pun Mama Poet harus berpikir fokus menyatakan keinginannya &#8221;Pokoknya sampai di sekolah paling telat harus jam 8.20&#8243;. Hasilnya? Alhamdulillah, tepat seperti yang sudah dipikirkan, 8.20 teng sampai di Sanggar Kelinci (walau rambut Dira sudah acak-acakan karena keringat).</p>
<p>Sesampainya di Sanggar Kelinci, Dira langsung lari ke sana kemari. Biasa, heboh lihat orang banyak. Begitu lihat ada anak cewek yang usianya sekitar 3 tahun naik perosotan, langsung deh dia lari ke sana dan ikut berpartisipasi. Awalnya si Dira belum ngerti kalau naik perosotan harus naik dari tangga dan bukan dari bagian bawah perosotannya. Jadilah dia merambat dari bagian bawah perosotan sementara si Kakak yang mau meluncur teriak-teriak ke Mamanya,&#8221;Mama, mama, aku mau meluncur nih tapi ada adek&#8230; gimana dong?&#8221;. Mama Poet akhirnya harus menarik Dira dan mengarahkannya ke bagian tangga, &#8220;Dek, kalau naik perosotan dari sini yah.. jangan dari depan.&#8221;</p>
<p>Akhirnya sih setelah beberapa kali dibilang, Dira mengerti dan langsung bolak-balik naik perosotan. Tapi yah itu, begitu lihat ada anak lain main yang lain, dia langsung mendatangi dan mau ikut main (hmm, dengan agak memaksa tentunya, alias rebutan). Ternyata, anakku belum mengenal konsep berbagi yah. Semoga setelah ikut kelompok bermain ini, dia bisa belajar mengenai &#8220;sharing with friends&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ayo, adik-adik, kita masuk ke kelas!&#8221;, ujar Kak Viera. Semua anak yang ada dalam Blue Class, termasuk Dira, pun digiring masuk ke kelas. Reaksinya bermacam-macam. Ada anak yang langsung teriak dan menangis, &#8220;Mama&#8230;mama&#8230;&#8221;, sehingga mamanya pun langsung ikut masuk kelas. Ada yang tetap bermain dengan mobil-mobilan, sepeda dan tidak mau ikut masuk. Ada anak yang langsung lupa dengan Mamanya, seperti Dira. Ha ha ha&#8230; Mamanya sih senang melihat Dira mandiri seperti itu, tapi agak sedih juga sih karena anak itu dengan gampangnya &#8220;mingle&#8221; dengan orang-orang baru dan mamanya dilupakan begitu saja (hmm, actually it is good, right?).</p>
<p>40 menit kemudian Dira keluar dari kelas sambil berlari, &#8220;Mama!&#8221;. Kata Mama, &#8220;Loh kok Dira keluar kelas? Kenapa?&#8221;. Tanpa ba bi bu si anak langsung berlari ke arah perosotan dan mulai menaiki tangganya. Yah sepertinya dia bosan dan butuh hiburan permainan selingan. Dasar anak-anak.</p>
<p>Saat dengar kakak di Sanggar Kelinci menggiring anak-anak sambil berkata, &#8220;Ayo, kita cuci tangan yah. Kan mau makan bekalnya&#8221;. Dira seketika langsung berlari mengikuti rombongan sambil teriak, &#8220;Ci nana, ci nana.&#8221; Sementara Mamanya berpikir, &#8220;Eh musti bawa bekal yah? Untung tadi roti buat sarapan yang tidak habis masih sisa&#8221; (kacau nih Mama). Dan seperti biasa, Dira langsung dengan semangat mendahului yang lain dan langsung menyerobot naik ke tempat pijakan buat cuci tangan. Aduh, anakku itu kok yah&#8230; (Mama geleng-geleng kepala).</p>
<p>Setelah acara makan bersama (Dira tidak mau makan karena sudah minum susu kotak rasa coklat), akhirnya kelas berakhir pukul 09.45 dan kita berpamitan pulang (sebelumnya harus tanda tangan dulu loh buat bukti kalau si anak mau pulang). Ketika naik angkot, langsung Mama Poet ditodong, &#8220;Ma, nene?&#8221;. Eh, dia kok ingat minta nenen yah? Gawat! Mama langsung melirik mbak Mis yang menyambutnya dengan berkata, &#8220;Jangan di sini Dira. Nanti nenennya diminta Oom tuh. Di rumah saja yah!&#8221;. Hebatnya, Dira sudah mengerti omongan mbak Mis ini. AKhirnya dengan pasrah dan muka agak ditekuk, Dira duduk dipangku dan diam sepanjang perjalanan dari Gandul, Pondok Labu hingga Cinere. Kasihan anakku!</p>
<p>Tapi, sesampainya di rumah, yah langsung deh minta bobok dan nenen. &#8220;Capek yah sekolah?&#8221;, tanya Mama Poet. &#8220;He eh&#8230;&#8221;, jawab Dira. &#8220;Hari Kamis ke sekolah lagi yah!&#8221;, kata Mama. &#8220;He eh&#8230;&#8221;, jawab Dira sambil merem melek. Hmm, yang lagi nenen! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=36&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/07/16/dira-ikut-kelompok-bermain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>