<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; rawat inap</title>
	<atom:link href="http://wearethepoets.wordpress.com/tag/rawat-inap/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Mar 2009 09:33:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wearethepoets.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/124be1b9888904af467001c385d7425d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; rawat inap</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wearethepoets.wordpress.com/osd.xml" title="Obral Obrol &#8220;Keluarga Poet&#8221;" />
		<item>
		<title>Dira sakit lagi (bagian 3)</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/11/dira-sakit-lagi-bagian-3/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/11/dira-sakit-lagi-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 04:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mama]]></category>
		<category><![CDATA[Hospital Cinere]]></category>
		<category><![CDATA[rawat inap]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Ampun, baru kali ini aku buat posting panjang banget. Sambung lagi yah cerita tentang Dira.
&#8230;&#8230;&#8230;.Jumat, 5 September 2008
Menjelang Maghrib, suster yang hendak memberikan obat ke Dira datang. Aku lihat sang suster membawa botol obat Sanprima.
Mama Poet : Sus, kayaknya tadi saya sudah minta untuk tidak memberikan Sanprima ke anak saya
Suster : Iya, Bu. Tapi ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=137&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ampun, baru kali ini aku buat posting panjang banget. Sambung lagi yah cerita tentang Dira.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;.<strong>Jumat, 5 September 2008</strong></p>
<p>Menjelang Maghrib, suster yang hendak memberikan obat ke Dira datang. Aku lihat sang suster membawa botol obat Sanprima.</p>
<p>Mama Poet : Sus, kayaknya tadi saya sudah minta untuk tidak memberikan Sanprima ke anak saya<br />
Suster : Iya, Bu. Tapi ini perintah dokter. Anak ibu kan suhu tubuhnya masih belum stabil, jadi harus dikasih antibiotik.<br />
Mama Poet : Tapi saya kan sudah bilang, kalau tidak ada hasil kultur tinjanya, saya minta berhenti antibiotiknya. Lagian emang kalau panas harus selalu dikasih antibiotik?<br />
Suster : Ya tidak sih Bu. Tapi ini perintah dokter. Ibu harus menurut pada dokter yang merawat.<br />
Mama Poet : Memang orang tua gak punya hak buat menolak pertimbangan dokter? Kan buat anak saya juga.<br />
Suster : Tapi Bu kalau tidak dikasih antibiotik, nanti panasnya gak turun.<br />
Mama Poet : Pokoknya saya menolak Sus. Kalau perlu nanti saya tanya opini dr. A*** dulu soal pemberian antibiotik ini.<br />
Suster : Ya sudah Bu. Nanti saya sampaikan ke dokter H****.</p>
<p>Hah, benar saja pesan saya disampaikan ke dokter. Ketika dokter datang berkunjung sekitar pukul 8 malam, beliau hanya memeriksa Dira sebentar dan berbincang sebentar.</p>
<p>Dokter : Jadi Ibu menolak Sanprima karena mau lihat hasil kultur tinja?<br />
Mama Poet : Iya Dok. Kan Sanprima antibiotik buat bakteri. Kalau penyebabnya virus, masa dikasih antibiotik juga.<br />
Dokter : Setidaknya kan untuk mengatasi kalau-kalau disebabkan sama bakteri. Semuanya terserah Ibu sih.<br />
Mama Poet : Tidak usah diberikan saja Dok.<br />
Dokter : (manggut-manggut, dengan muka kurang senang) Tapi obatnya tetap saya bawakan Bu. Nanti kalau panas, atau masih muntah dan mencret, diberikan saja.<br />
Mama Poet : Ya sudah kalau begitu Dok (dalam hati ngedumel karena dokter ini tetap saja memaksa pemberian antibiotik)</p>
<p>Sejak masuk rawat inap, Dira maunya nenen dan tidur. Dan karena diinfus, Dira jadi bolak-balik pipis sehingga akhirnya aku harus berulang kali meminta celana ganti ke suster. Sebenarnya sih, saat rawat inap itu Dira masih sempat mencret 1 kali dan kecirit (hmm apa yah istilah kerennya) 3 kali. Informasi ini tidak aku sampaikan ke suster atau dokter karena masih keukeuh tidak mau kasih antibiotik ke Dira. Ingat RUD! (Rational Use of Drugs)</p>
<p>Mama dan abangku juga sempat berkunjung. Dan seperti biasa, lagi-lagi aku kena deh diomongin. Kata Mama, &#8220;Makanya anak jangan disekolahin dulu, masih kecil ini. Jadinya bolak-balik sakit. Sudah berhenti saja sekolahnya. Itu kayak Rania, anaknya bang Didin, juga begitu kan. Sejak sekolah, bolak-balik masuk rumah sakit, bla&#8230;bla&#8230;&#8221;. Waduh, kalau sudah begini, aku biasanya cuma bisa diam. Hmm, memang sih anak yang sudah bersekolah lebih rentan terkena penyakit karena penularan di sekolah lebih cepat terjadi, tapi bukan berarti si anak dapat penyakit selalu dari sekolah kan? Aduh, pusing deh diceramahin sama Mama. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oya, beberapa hal lumayan bikin heboh selama Dira dirawat inap, seperti:</p>
<blockquote><p>Saat pertama kali kena jadwal mandi sore yang dilakukan oleh 2 orang suster jaga, Dira menangis seperti saat dimasukkan jarum infus ke tangannya. Heboh abis! Padahal yah cuma dilap sama air hangat, dikeringkan badannya dan pakai baju lagi. Selama pengelapan, Dira bolak balik berkata,&#8221;Mama, Mama, ayo! Ayo! Mama, Ayo! Nenen!&#8221;<br />
Lah, lucu juga anak ini, sebenarnya menangis karena trauma melihat suster atau mau minta nenen sih. Untungnya setelah selesai mandi, Dira diam, hmm walaupun itu karena disogok sama nenen.</p></blockquote>
<blockquote><p>Saat tidur malam, aku terbangun karena mau pipis. Ternyata Dira ikut bangun dan matanya melek setengah sadar. Aku berinisiatif menawarkan minum air putih, tapi ditolak. Nah yg seru, rupanya aku gak ngeh kalau saat Dira menolak, tangannya menepis gelas sehingga airnya tumpah. Aku agak panik saat meraba kok seprai basah, dan eh perban infus Dira juga basah. &#8220;Jangan-jangan jarum infusnya copot nih atau infusnya bocor.&#8221;, pikirku. Spontan aku memencet bel dan memanggil suster basah. Setelah berheboh-heboh, periksa ini itu, ganti perban Dira (bahkan menyebabkan Dira menangis kencang lagi), susternya berkata, &#8220;Apa ini air minum yah Bu? Soalnya jarum infus tidak lepas, botol dan selang infusnya juga tidak ada yg bocor.&#8221;<br />
Baru deh aku mikir, hehe jangan-jangan emang air minumnya tadi tumpah. &#8220;Maaf yah Sus merepotkan.&#8221;, ujarku, malu. Aduh Mama Dira ini!</p></blockquote>
<p><strong>Sabtu, 6 September 2008</strong></p>
<p>Alhamdulillah, kondisi Dira mulai membaik. Dira sudah bisa duduk sendiri tanpa roboh lagi dan sudah mulai mau makan. Yah sempat bikin aku marah juga karena dia menumpahkan kuah di seprai saat dia menyendokkan kuah ke mangkuk bubur ayam sehingga suster harus ganti seprai lagi. Dira juga sempat ribut mau makan telur rebus sendiri. Dan, yang paling dia senangi adalah minum teh manis yang disediakan. Yah sudah deh, daripada gak minum, dibolehkan minum teh terus.</p>
<p>Mandi pagi juga sudah lebih tenang dan tidak diisi dengan tangisan. Bahkan saat dokternya datang berkunjung, dengan hati senang aku menerima kepastian bahwa Dira sudah boleh pulang hari ini kalau mau. Wah, bagus deh! Soalnya aku capek juga jadi single fighter merawat Dira. Jadi gak kebayang kalau harus tambah hari lagi.</p>
<p>Nah, pukul 12 tepat, setelah Dira makan siang (sudah lumayan banyak loh porsi yang masuk), kita semua pulang dari Hospital Cinere. Tadinya mau dijemput sama Uwaknya, tapi berhubung mobilnya belum sampai saat kita pulang yah akhirnya naik taksi deh. Lucunya, 2 anak yang sekamar Dira ternyata juga keluar dari rumah sakit di hari dan jam yang sama. Jadi, kamar rawat inapnya langsung kosong melompong. Hmm, cuma sebelum pulang, Dira sempat bermain dengan peralatan mainan yang baru dipasang hari itu. Wah, lumayan yah Dek, nyobain mainan baru.</p>
<p>Well, that&#8217;s all ceritaku tentang Dira yang sakit lagi. Baru kali ini anak ini sakit bikin heboh orang tuanya dan bahkan sampai rawat inap. Tambah terasa deh tanggung jawab sebagai orang tua memang berat dan betapa dulu kita sebagai anak juga selalu menyusahkan orang tua.</p>
<p>Aku secara pribadi sih merasa bahwa lebih enak memikul beban sebagai couple parents daripada single parent walau pada kenyataannya sering kali aku harus bertindak dan ambil keputusan sebagai single mum (karena situasi dan kondisi menghendaki demikian).</p>
<p>Salut deh buat mereka yang memutuskan untuk menjadi single parent.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/137/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/137/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=137&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/11/dira-sakit-lagi-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dira sakit lagi (bagian 2)</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/10/dira-sakit-lagi-bagian-2/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/10/dira-sakit-lagi-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 04:51:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mama]]></category>
		<category><![CDATA[Hospital Cinere]]></category>
		<category><![CDATA[rawat inap]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Melanjutkan ceritaku tentang Dira yah.
&#8230;.Senin, 1 September 2008
Menjelang waktu tidur, Dira mulai lemas dan badannya kembali panas sehingga obat penurun panas akhirnya harus beraksi lagi. Dengan berbekal Tempra Forte, minyak kayu putih, termometer dan air minum, aku dan Dira tidur di kamar atas. Benar saja, menjelang tengah malam aku terbangun karena Dira gelisah hingga akhirnya dia terbangun pula dan berkata, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=127&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Melanjutkan ceritaku tentang Dira yah.</p>
<p>&#8230;.<strong>Senin, 1 September 2008</strong></p>
<p>Menjelang waktu tidur, Dira mulai lemas dan badannya kembali panas sehingga obat penurun panas akhirnya harus beraksi lagi. Dengan berbekal Tempra Forte, minyak kayu putih, termometer dan air minum, aku dan Dira tidur di kamar atas. Benar saja, menjelang tengah malam aku terbangun karena Dira gelisah hingga akhirnya dia terbangun pula dan berkata, &#8220;Ma, ee&#8221;. Bergegas aku ke kamar mandi dan begitu dia duduk di kloset, pupnya keluar, sangat kental dan berwarna putih kekuningan. Aduh, aku bingung sekali. Jadi teringat dengan informasi kalau pup bayi berwarna putih mirip dempul, berarti ada gangguan pada organ hatinya. &#8220;Aduh, gimana dong?,&#8221; pikirku. &#8220;Tenang Ma, tenang&#8230;,&#8221; ucapku dalam hati. Pada saat itu aku benar-benar mau menangis namun bingung hendak berbagi kepada siapa (salah satu duka hidup terpisah dari suami nih). Akhirnya aku berusaha menguatkan diri. Kalau tidak aku, siapa lagi yang akan urus Dira kan?</p>
<p>Sekitar pukul 2 malam, panas tubuh Dira kembali naik sehingga Dira terpaksa aku bangunkan untuk diberi Tempra. Sebenarnya kasihan juga sih dibangunkan, tapi termometernya sudah lewat angka 39 derajat. Takut timbul kejang (walaupun selama ini Dira tidak pernah menunjukkan gejala kejang walau panas tinggi), apalagi sebelumnya aku sempat meraba tangan dan kaki Dira yang terasa dingin sementara dahi sangat panas. Kan kata mereka yang sudah berpengalaman, perbedaan suhu bagian kepala dengan bagian bawah tubuh (alias kaki) adalah tanda-tanda awal menuju kejang panas. Oleh karena itu, kita harus mengusahakan sedemikian rupa agar suhu tubuh kedua bagian stabil, mungkin dengan memberi minyak telon pada bagian kaki atau memberi obat penurun panas.</p>
<p><strong>Selasa, 2 September 2008</strong></p>
<p>Rencananya hari ini aku akan masuk kantor. Tapi entah mengapa melihat tubuh Dira yang lemas, rasanya gak tega meninggalkannya begitu saja. Akhirnya, aku bolos kantor lagi (toh, dapat jatah 2 hari tidak masuk berdasarkan surat dokter).</p>
<p>Dan seperti diduga, perlahan suhu tubuh Dira mulai merambat naik. Aku telpon ke Klinik Anakku mengenai dokter anak langgananku apakah beliau praktek atau tidak dan mendapat jawaban &#8220;Ya, pukul 7-10&#8243;. Aku bergegas ke Klinik untuk menemui dokter dan ternyata&#8230; dokter baru akan praktek pukul 7-10 malam. Yah Mama, capek deh! Kenapa juga gak tanya dengan jelas? Kasihan anaknya tuh dibawa kesana kemari!</p>
<p>Saat pulang ke rumah, Dira kembali diberi Tempra dan sempat buang air kecil dan besar bersamaan. Tinja dan urin tidak ada bedanya lagi, sama-sama encer dan menyembur dengan tekanan lumayan kuat. Herannya, panas tubuhnya tidak kunjung turun juga hingga 2 jam setelah diberi Tempra, padahal harusnya obat bekerja dalam 15-30 menit. &#8220;Kayaknya cairan tubuhnya mulai kurang deh Mbak. Abis kok gak bisa keluar keringat sih. Pipis aja jadi jarang begini,&#8221; ujarku ke mbak Mis.</p>
<p>Karena takut terjadi dehidrasi, Dira diminumkan air putih dan elektrolit dengan cara paksa, mbak Mis bertindak sebagai pemiting dan aku sebagai executor. Kasihan sih, tapi ini semua kita lakukan karena Dira terus menolak diberi minum. Cuma, cara paksa ini hanya efektif 4-5 kali. Setelah itu, anak ini malah jadi pintar memuntahkan semua cairan yang sudah dimasukkan ke dalam mulutnya.</p>
<p>Aku ingat, sepanjang hari Selasa siang itu, Dira mulai menolak disusui. &#8220;Dek, mau nenen gak?&#8221; tawarku. Terkadang Dira membuka mulutnya, tapi hanya untuk mengempeng. Sering kali yang terjadi, tawaran nenen ditolaj dengan gelengan kepala dan Dira akan berbalik badan. Ya ampun! Baru kali ini dalam sejarah Dira menolak disusui. Aku jadi semakin sedih karena ini otomatis berarti berkurangnya cairan yang masuk ke tubuh Dira.</p>
<p>Aku dan Dira kembali ke Klinik Anakku. Berhasil menerobos antrian dr. A*** karena kasus Dira tergolong &#8220;emengency matters&#8221;. Menurut beliau sepertinya Dira terinfeksi Rotavirus. Beliau hanya memberikan obat dengan kandungan Zinc (katanya rekomendasi WHO agar untuk kasus diare tidak perlu diberikan obat lain selain obat ini) dan Pedialyte. &#8220;Obat dari dokter sebelumnya lebih baik dihentikan Bu karena tidak perlu racikannya itu,&#8221; pesan beliau. Beliau juga menyarankan agar melakukan pemeriksaan lab (darah dan tinja) apabila Dira masih panas di hari ke-3. Aku pulang dengan hati agak tenang karena beliau belum rekomendasi untuk rawat inap (dengan catatan bahwa tiap kali muntah/mencret, anak harus diberi pengganti cairan tubuh setidaknya 100 ml).</p>
<p>Alhamdulillah, Selasa malam itu, panas tubuh Dira perlahan mulai turun. Dira mulai berkeringat dan frekuensi muntah mulai berkurang. Namun Dira tidur dengan gelisah. Entah perutnya terasa sakit atau hal lainnya. Tiap kali dia terlihat gelisah, aku langsung menawarkan Dira, mau nenen, susu botol, pipis, pup, minum dan lain-lain. Tapi berakhir dengan penolakan.</p>
<p>Malam itu pun, aku dan Dira harus tidur di kamar bawah karena insiden muntah terjadi lagi sehingga kasur kamar atas basah kuyup. Aku sempat kesal karena sebenarnya aku sudah bertanya apakah Dira mau muntah, tapi dijawab dengan gelengan. Nyatanya 5 menit kemudian dia muntah. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Rabu, 3 September 2008</strong></p>
<p>Aku masuk kantor lagi. Masih berat meninggalkan Dira tapi apa daya surat dokternya sudah habis.</p>
<p>Hari itu aku hanya menerima laporan dari mbak Mis kalau Dira masih susah minum air, makan hanya sedikit dan masih mencret 1 kali. Dira juga sempat dibawa oleh neneknya ke tempat pijat bayi. Perut kembung hilang setelah dipijat. Namun, entah ada hubungannya dengan pijat atau memang itu adalah gejala dehidrasi, saat tidur Rabu malam Dira sangat gelisah, membolak-balikkan badannya tiap saat dan mengigau.</p>
<p><strong>Kamis, 4 September 2008</strong></p>
<p>Lagi-lagi Dira sempat muntah saat diberi makan dan masih mencret. Saat aku tiba di rumah dari kantor, aku perhatikan Dira semakin lemas dan bawaannya ingin tidur terus. Aku bolak-balik mencubit kulitnya. Hmm, kulit masih kembali normal dengan cepat. Tapi kok yah tiap kali aku dudukkan, Dira pasti langsung melorot tiduran lagi. Bagian bawah mata Dira sangat cekung, dan tulang bahunya menjadi sangat menonjol. Kelihatan sekali kalau berat badan Dira turun. Aduh, kayaknya memang tanda-tanda dehidrasi.</p>
<p>Sebenarnya Kamis malam aku sudah ingin segera membawa Dira ke rumah sakit. Mungkin memang lebih baik opname daripada di rumah, walaupun ini artinya Dira akan diinfus. Habis, bagaimana lagi? Di rumah tidak menunjukkan pemulihan dan malah semakin lemah. Masalahnya yah itu, Dira susah sekali disuruh makan, minum air putih dan bahkan cairan pengganti tubuh. Semuanya harus dipaksa.</p>
<p>Akhirnya aku sms ke suami (karena seperti biasa ponselnya pasti mati kalau malam hari). Isinya begini:</p>
<blockquote><p>&#8220;Pa, kok baca gejalanya Dira dehidrasi berat ya? Lu besok bisa bolos ya? Ajak ke dokter, kalo perlu infus ya terpaksa dirawat. Gw dah ga bisa bolos lagi. Takut telat penanganan Dira nanti&#8221;</p></blockquote>
<p>Aku sih bisa saja langsung memasukkan Dira ke rumah sakit. Tapi terkadang aku terlalu banyak pertimbangan. Dalam hal ini salah satunya adalah komentar yang bakal datang dari mertua dan kakak iparku. Aku sudah membayangkan komentar apa yang akan keluar kalau aku terburu-buru memasukkan Dira ke rumah sakit.</p>
<blockquote><p>&#8220;Ngapain sih buru-buru masuk ke rumah sakit, buang-buang uang saja. Rawat di rumah saja. Dokter sih komersial. Pasti maunya langsung dirawat.&#8221;</p></blockquote>
<p>Sebaliknya, kalau aku tidak kunjung memasukkan Dira ke rumah sakit, komentar yang akan keluar mungkin seperti berikut ini:</p>
<blockquote><p>&#8220;Aduh! Kenapa sih anaknya dibiarin sampai begini? Gimana sih? Kenapa lambat banget?&#8221;</p></blockquote>
<p>Jadi, selain alasan di atas, aku ingin supaya Papa Poet melihat langsung kondisi anaknya dan akhirnya bisa kasih keputusan mengenai hal ini. Yah, secara tidak langsung aku melatih Papa Poet supaya lebih bertanggung jawab atas anaknya dan tidak selalu mengandalkan aku buat bikin keputusan penting. Dira is his child too, right? Not only mine.</p>
<p><strong>Jumat, 5 September 2008</strong></p>
<p>Jam 5.30 pagi Papa Poet menelpon menanyakan keadaan Dira. Aku katakan kondisi Dira cukup membuat kuatir dan sangat berharap dia mau pulang. Alhamdulillah Papa Poet mau pulang. Dan hari itu aku tetap berangkat kerja dengan menitipkan pesan ke mbak Mis bahwa kalau Papanya sampai agar segera menelponku.</p>
<p>Sekitar pukul 8 pagi, Papa Poet menelpon.</p>
<p>Papa Poet : Iya Ke, kayaknya memang harus masuk rumah sakit. Aku baca-baca di internet sih masih dehidrasi moderat. Tapi lebih amannya dibawa saja deh. Lu bisa pulang cepat gak?<br />
Mama Poet : Mungkin bisa. Aku harus ijin dulu ke bos. Tapi mungkin baru jam 12-an<br />
Papa Poet : Jam 10 aja keluar dari kantor.<br />
Mama Poet : Iya, iya diusahakan. Aku selesaikan dulu kerjaan hari ini sebentar.</p>
<p>Tepat pukul 10.30 aku ijin ke bos untuk pulang lebih cepat lewat sms ke temanku. Bos sedang ada meeting dengan temanku itu. Alhamdulillah diijinkan. Sayang, padahal hari ini ada farewell dinner dengan temanku yang lain yang mengundurkan diri dari pekerjaan. &#8220;Maaf yah Mbak Desi, I can&#8217;t join the dinner. Good luck!&#8221;, pamitku.</p>
<p>Kenapa yah kalau sedang terburu-buru pasti ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan terjadi. Saat menunggu taksi di depan kantor, tidak satu pun taksi lewat sehingga akhirnya aku naik angkutan umum. Kemudian, giliran sedang ada taksi Bluebird, eh aku malah mikir untuk menunggu taksi itu di lampu merah Pasar Rebo. Namun rupanya taksi tersebut berbelok entah dimana. Di lampu merah aku sempat melihat taksi Gamya, namun terlanjur pergi karena lampu sudah hijau.</p>
<p>Aku kemudian menyeberang ke lampu merah arah halte bis Trans Jakarta. Ada taksi Putra, namun sudah ada penumpang. Akhirnya setelah lebih dari 5 menit berpanas-panas, taksi Putra yang lain lewat. Kebetulan, taksinya kosong. Aku pun segera masuk ke dalam taksi walau dengan perasaan kurang sreg. &#8220;Cinere, pak!&#8221;, kataku. Saat aku menoleh ke kiri jalan, ada taksi Express yang kosong. &#8220;Yah masa aku turun dari Putra?&#8221;, pikirku.</p>
<p>Rupanya perasaanku benar adanya. Karena, begitu taksi melaju, aku langsung berpikiran untuk melihat argonya. Zap&#8230; zap&#8230; zap&#8230; &#8220;Ya ampun, cepat banget nih argo jalannya. Biasanya gak begini.&#8221;, pikirku. Kemudian aku menoleh ke arah spion, dan kulihat supir taksi bolak-balik mengamatiku dengan gelisah. Yah beneran kena argo kuda nih. Aku terus memperhatikan argo taksi. &#8220;Hmm, coba kalau gak lewat tol. Mungkin gue langsung turun deh.&#8221;, pikirku lagi. Rp 250, 500, 750&#8230;&#8230;Rp 20rb, sekitar 700 meter dari pintu turun tol Fatmawati. &#8220;Pak, saya turun di perempatan Fatmawati saja deh!&#8221;, ucapku. Aku harus merogoh Rp 23rb untuk membayar taksi tersebut. Kesal banget! (Aku crosscheck ke suami, dia naik taksi Ekspress dari Pasar Rebo ke Cinere hanya kena sekitar Rp 31rb. Tambah kesal deh! Sayangnya aku lupa mencatat nomor taksi Putra yang nakal itu)</p>
<p>Menunggu taksi di Fatmawati membuatku tidak sabar. Akhirnya aku naik angkutan umum lagi ke arah Cinere. Namun akhirnya di depan BNI 46 aku turun dan berjalan kaki ke pertigaan Dapur Susu. Halah, lagi buru-buru kok pakai macet segala. Setelah melewati hambatan, aku tiba di rumah dengan taksi Bluebird (hehe naik dari depan Cinere Mall juga) pukul 11.40 dan langsung berangkat ke Hospital Cinere bersama Papa Poet, Dira dan mbak Mis.</p>
<p>Karena hari Jumat, praktek dokter anak baru dimulai lagi pukul 2 siang. Akhirnya kami langsung ke ICU. Selesai diinterogasi oleh dokter ICU dan Dira diperiksa, akhirnya diputuskan juga Dira harus diinfus. Aku ditanya hendak pakai dokter anak yang mana, dr. Harry atau dr. Kiki. Aku pilih dr. Harry, setelah bertanya apakah dr. Aman bisa atau tidak. Kurang sreg sih sebenarnya dengan pilihan dokter anak yang ada di Hospital Cinere. Tapi, masa aku harus berlari ke RSPI untuk mengejar dr. Aman?</p>
<p>Saat mendengarkan instruksi dr. H**** kepada dokter ICU mengenai obat yang harus diberikan. Aku sempat protes dan menolak pemberian antibiotik tanpa hasil pemeriksaan lab untuk darah, urin dan kultur tinja. &#8220;OK bu. Nanti semuanya diperiksa kok.&#8221;, ujar dokter ICU.</p>
<p>Oya, setelah diperiksa oleh dokter, Dira tidak mau tidur di atas tempat tidur dan minta gendong. Kemudian, 3 orang suster menghampiri kami untuk memasang infus. Dira dibedong dengan selimut dan mulai menangis. &#8220;Ma, Ma, ga mau! Ma, eno..Diya eno! Ma!&#8221;</p>
<p>Saat salah satu suster mulai menusukkan jarum infus, tangis Dira semakin kencang disertai dengan pemberontakan. Aku ikut menangis. Tak tega melihat tangan mungilnya ditusuk jarum. Percobaan pertama gagal. Suster tidak bisa menemukan pembuluh darah yang pas. Untung saat ditangani suster yang kedua, pembuluh darah segera ditemukan. Air mataku mengucur, apalagi mendengar teriakan dan pandangan memohon dari Dira. &#8220;Tatit Ma, tatit! Ma, ayo Ma&#8230; tatit,&#8221; teriak Dira. &#8220;Sabar yah Nak. Nanti kalau Dira banyak gerak, malah tambah sakit. Abis ini Dira boleh nenen Mama kok,&#8221; ujarku.</p>
<p>Dira masih terus menangis hingga proses pemasangan infus selesai. Sebenarnya selama pemasangan infus, ada hal yang bikin geli. Di tengah tangisannya, Dira masih sempat bertanya, &#8220;Apa itu Ma?&#8221;, saat melihat jarum infus memasuki pergelangan tangannya. Setelah infus terpasang, Dira akhirnya minta nenen. Ya sudahlah, sementara Papa Poet masih cari kamar.</p>
<p>Pukul 1 siang, Dira dipindahkan ke ruangan Aster, kamar 615. Ternyata di kamar ini sudah ada 2 orang anak lainnya. Yang satu berusia sekitar 11 tahun dan menderita infeksi ginjal. Yang lain berusia 5 tahun dan opname karena ayahnya ingin dia beristirahat (hmm, ada-ada saja).</p>
<p>Aku akhirnya terpaksa ikut menginap di rumah sakit. Menjelang sore, suster datang memberitahu hasil lab secara lisan dan bertanya apakah aku tetap berkeras untuk tidak memberikan antibiotik Sanprima ke Dira.</p>
<p>Mama Poet : &#8220;Iya sus. Saya mau lihat hasil kultur tinjanya.&#8221;<br />
Suster : Tapi leukositnya tinggi loh bu.<br />
Mama Poet : Hasil tinjanya bagaimana?<br />
Suster : Hasil tinja sih bagus.<br />
Mama Poet : Kalau begitu, tidak usah Sus.<br />
Suster : Baiklah, saya sampaikan ke dokter yah Bu.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Bersambung lagi yah ke bagian 3. Capek! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/127/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/127/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=127&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/10/dira-sakit-lagi-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dira sakit lagi (bagian 1)</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/08/dira-sakit-lagi-bagian-1/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/08/dira-sakit-lagi-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 03:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mama]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Hospital Cinere]]></category>
		<category><![CDATA[rawat inap]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar kelinci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya aku mau menulis posting ini dari minggu lalu nih. Tapi ternyata, situasi dan kondisi sehubungan dengan sakitnya Dira ini akhirnya mengakibatkan dia harus dirawat inap di Hospital Cinere selama 1 malam sehingga ceritanya jadi panjang.
Ada apa dengan Dira sampai harus mengalami rawat inap? Kronologisnya seperti yang akan Anda baca berikut ini (halah, gak nahan sama bahasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=125&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebenarnya aku mau menulis posting ini dari minggu lalu nih. Tapi ternyata, situasi dan kondisi sehubungan dengan sakitnya Dira ini akhirnya mengakibatkan dia harus dirawat inap di Hospital Cinere selama 1 malam sehingga ceritanya jadi panjang.</p>
<p>Ada apa dengan Dira sampai harus mengalami rawat inap? Kronologisnya seperti yang akan Anda baca berikut ini (halah, gak nahan sama bahasanya yah?). </p>
<p><strong>Sabtu, 30 Agustus 2008</strong></p>
<p>Cerita dimulai hari Sabtu. Dari jam 9 pagi hingga jam 12 siang, aku, Dira dan mbak Mis berkunjung ke kelompok bermain Dira karena ada acara &#8220;Dongeng Islami&#8221; menyambut bulan Ramadhan. Selama acara berlangsung, Dira benar-benar tidak bisa diam. Saat teman-temannya duduk bersila dan menyimak pertunjukan dari kelas Yellow, TK A dan TK B, Dira malah sibuk ngoprek-ngoprek kelas sebelah. Kemudian, ketika sang pendongeng memperkenalkan diri (namanya Kak Eko) dan temannya menyimak, Dira malah berdiri di tengah ruangan sambil bersidekap dan melihat ke arah Kak Eko dengan serius. Kak Eko sampai berkata,&#8221;Waduh, saya takut nih ada melototin saya,&#8221;. Dan, selama acara dongeng berlangsung, Dira sibuk dengan usahanya untuk maju ke panggung hingga akhirnya harus dipangku oleh salah satu kakak Sanggar Kelinci tepat di depan panggung.</p>
<p>Acara dongeng ini memang akhirnya berakhir dengan lancar dan ditutup dengan acara foto-foto. Yang lucu, saat difoto, Dira yang duduk di depan malah sibuk melihat temannya yang di belakang sehingga akhirnya yang terfoto hanya rambutnya. Saat take ke-2, eh Dira malah maju ke depan buat mengambil kamera kak Viera. Cckk&#8230; cckk&#8230; Satu hal yang cukup menggugah Dira adalah saat teman-teman dari kelas TK B menarikan tari Saman. Dira langsung memperhatikan dengan serius gerakan yang dibuat dan kemudian mencoba untuk menirunya, walau hasilnya masih berantakan. Lucu!</p>
<p>Setelah selesai acara, kita bertiga pulang dan mampir terlebih dahulu ke pasar Pondok Labu untuk membeli bahan membuat kue kering dan wadah toplessnya. Dira tertidur dengan sukses selama perjalanan di angkutan umum.</p>
<p>Sore harinya, Papa Poet mendadak memutuskan untuk pergi berbelanja bulanan ke Carrefour. Aduh, si mbak Mis tidak bisa ikut karena sedang dalam proses membuat kastengel. Yah, jadinya kita pergi bertiga deh. Selama di Carrefour, alhamdulillah Dira tidak rewel dan mau didudukan di trolley. Cuma yang bikin kesal adalah kejadian yang bikin Dira tidak makan malam tepat waktu. Jadi, saat aku dan Dira sedang menuju area frozen foods, kita bertemu dengan Papanya. Yah, otomatis aku minta tolong Papa buat mendorong trolley dan menunggu selama aku dan Dira mencari nuggets merk Champs. Entah kenapa, mendadak Papa Poet pergi mendorong trolley menjauhi area ini. Aku berusaha menyusul, namun ternyata sudah menghilang. Aku telpon Papa Dira.</p>
<p>Mama Poet : Pa, trolleynya ditaruh dimana?<br />
Papa Poet : Di dekat biskuit<br />
Mama Poet : Yang dimana? Yang di tengah-tengah?<br />
Papa Poet : Iya. Cari aja.</p>
<p>Aku, sambil menggendong Dira dengan tangan kiri dan menenteng 1 bungkus nugget @ 1 kg, menyusuri area tengah dimana deretan promosi biskuit untuk mencari trolley. 1 keliling, 2 keliling&#8230; tidak ketemu. &#8220;Where the hell is the trolley?&#8221; said I, becoming unpatient. Aku telpon lagi.</p>
<p>Mama Poet : Dimana sih Pa? Gak ketemu nih. Mana aku capek lagi gendong Dira sambil bawa nugget.<br />
Papa Poet : Yah dekat biskuit. Cari aja<br />
Mama Poet : Heeeh, biskuit kan banyak Pa. Yang di tengah gak ada tuh trolleynya. Dimana sih tepatnya? Beneran di area tengah?<br />
Papa Poet : Iya, coba dicari.</p>
<p>Aku kesal. Bagaimana tidak? Sudah tangan dan punggung pegal, masih harus disuruh mencari trolley yang tempatnya tidak dideskripsi dengan benar. Lagipula, yang buat aku semakin kesal adalah, kenapa sih trolleynya tidak ditinggal dekat area nuggets jadi aku tidak perlu susah mencari lagi? Akhirnya aku mengajak Dira keluar dari area Carrefour dan berjalan menuju ke toilet. Telpon berdering.</p>
<p>Papa Poet : Gimana? Ketemu gak?<br />
Mama Poet : Enggak. Di mana sih taruhnya? Capek nih.<br />
Papa Poet : Gitu aja gak bisa nyari. Di dekat biskuit.<br />
Mama Poet : Gak ada. Aku dah keliling beberapa kali di biskuit tengah situ. Gak ketemu trolleynya.<br />
Papa Poet : Trus, sekarang kamu dimana?<br />
Mama Poet : Keluar. Aku mau pipis dulu.<br />
Papa Poet : Ngapain keluar?<br />
Mama Poet, dengan agak membentak : Aku pipis dulu!<br />
Klik, telpon ditutup oleh Papa Poet.</p>
<p>Ketika sampai di toilet, niat untuk buang air kecil lenyap. Toiletnya penuh sekali. &#8220;Aduh Dira, kita naik lagi deh. Mama tahan pipis aja deh,&#8221; ujarku pada Dira.</p>
<p>Aku dan Dira naik, ketika hendak berbelok kiri, aku lihat Papa Poet sudah mengantri di kasir. Aku hampiri dia. Ppfffh&#8230; mukanya kaku, cemberut dan diam. Marah dia! Aku jelas semakin kesal, pikirku,&#8221;Harusnya gue yang marah, kenapa dia yang cemberut? Sebel ih!&#8221;</p>
<p>Setelah barang belanjaan dibayar, kami keluar dari Carrefour. Saat itu sudah pukul 7 malam. Papa Poet berjalan mendorong trolley pertama dan aku mendorong trolley kedua tepat di belakangnya. Aku sempat berkata, &#8220;Pa, cari makan dulu dong! Dira belum makan nih dan tidak bawa bekal juga dari rumah,&#8221;. Papa Poet terus berlalu menuju mobil. Aku pikir, &#8220;Ah, mungkin menaruh barang belanjaan dulu,&#8221;. Setelah selesai membenahi belanjaan ke mobil, Papa Poet naik ke tempat duduk pengemudi. &#8220;Pa!&#8221; kataku,&#8221;Dira belum makan nih. Beli dulu yuk,&#8221;. Tanpa ba bi bu, Papa langsung menstarter mobilnya sehingga mau tidak mau aku dan Dira ikut masuk mobil. Aduh, hatiku terasa &#8216;ngenes&#8217; (sedih, kesal, marah, benci, campur aduk). Egois sekali sih orang ini! Kesian kan anaknya belum makan.</p>
<p>Sepanjang perjalanan pulang yang sangat macet sekali, Papa Poet terus berdiam diri. Aku dan Dira menghibur diri dengan sibuk bernyanyi sambil memakan snack astor. Untung di mobil selalu sedia air mineral sehingga tidak takut kehausan. Kami akhirnya sampai rumah pukul 9 malam. Dira kemudian tertidur pukul 10 malam dan cuma sempat makan 2-3 suap nasi dan sayurnya.</p>
<p><strong>Minggu, 31 Agustus 2008</strong></p>
<p>Papa Poet mau bicara kembali. Hari ini kita berencana pergi jalan-jalan menghabiskan energi (mumpung belum masuk bulan puasa). Tujuan Papa Poet adalah Ratu Plaza. Kali ini buat Dira disiapkan bekal makan siang dan malam dengan menu nasi, mie goreng dan sup udang. Setelah memarkirkan mobil di Plaza Senayan, kami makan siang di food court, Fiesta steak. Dira ikut makan kentang (di mobil sih Dira sudah makan duluan) dan minum orange juice. Kemudian kami berjalan ke arah Ratu Plaza dan melintasi area parkir PS. Sepanjang perjalanan ke Ratu Plaza, Dira berlari dengan lincahnya. Aku sampai kalang kabut mengejarnya. &#8220;Dira!&#8221;, teriakku,&#8221;Hati-hati, banyak mobil loh Nak!&#8221;</p>
<p>Selama di Ratu Plaza, Dira tetap ceria dan sibuk berlari hilir mudik. Bahkan Dira sempat terpeleset dan bilang,&#8221; Adyuhh, tatat Diya tatit Ma,&#8221;. Dira juga sempat pup di pampers dan lumayan bikin heboh karena pupnya agak cair sehingga ada yang mengalir keluar pampers (padahal pakaian ganti ditinggal di mobil). Karena hal ini, kami terburu-buru meninggal Ratu Plaza menuju PS kembali. (Pup ini sebenarnya adalah pertanda pertama sebelum Dira mulai muntah)</p>
<p> Sepulang dari Ratu Plaza, kami mampir ke Cinere Mall karena Papa Poet mau mencukur rambutnya. Selama menunggu Papa Poet, aku dan Dira melihat ke toko sepatu Bata dan berhasil membeli sepasang sendal dan sepasang sepatu kets. Semuanya untuk Dira. Dari toko sepatu, kami ke ATM BCA kemudian ke ATM Mandiri. Memang nasib kurang beruntung. Saat bertransaksi di ATM Mandiri, mendadak Cinere Mall mati lampu. Yah, kartu ATM-nya tertelan. Aduh, macam-macam saja. Kemudian kita menyusul Papa Poet ke lantai 3 dan sampai di barbershop dengan terengah-engah (eskalatornya mati hiks). </p>
<p>Pukul 7 malam kami keluar dari Cinere Mall menuju ke rumah Mamaku (Nenek Dira). Aku menyiapkan makan malam Dira. Suapan pertama masuk, hap! Suapan kedua, masuk juga dan 3 detik kemudian huekkk&#8230; Dira muntah. &#8220;Dira!&#8221;, teriakku. &#8220;Kenapa sih dimuntahin? Aduh, mana mobilnya baru dicuci deh.&#8221; Aku masih terus ngedumel ketika membersihkan tubuh Dira dan mengganti bajunya. (Maaf yah Nak, soalnya Mama capek banget seharian menggendong Dira! Jadinya terbawa emosi)</p>
<p>Sesampai di rumah Mamaku, Dira masih mau menelan 1 suap makanannya. Ketika suapan kedua masuk, byurrrr&#8230; Dira muntah menyembur dan sebagian muntahannya masuk ke dalam mangkok makanannya. &#8220;Aduh, Dira, kenapa kamu? Masuk angin yah?&#8221; tanyaku. Setelah membersihkan tubuh Dira (kali ini tidak ganti baju karena sudah habis persediaannya), kami pulang ke rumah. Sambil mendekap tubuh Dira, aku memasuki rumah dengan lelah dan sedih. Kenapa lagi sih anakku ini? Muntahnya kok juga menyembur seperti itu? </p>
<p>Sementara pertanyaan terus berkelebat, Dira masih terus muntah, setelah minum susu, setelah disusui. Tubuh Dira sempat aku balur dengan bawang merah, minyak telon, minyak kayu putih dan segala usaha lainnya. Terhitung sejak muntah pertama dan kedua, Dira masih terus muntah sebanyak 6 kali mulai dari pukul 9 malam hingga pukul 3 dini hari, saat sahur di hari pertama puasa. Tipe muntahnya sama, menyembur. Terlihat sekali Dira mulai lemas dan tidak bergairah. Nak, kasihan kamu.</p>
<p><strong>Senin, 1 September 2008</strong></p>
<p>Menjelang pagi hari, tubuh Dira mulai menghangat dan mencapai 39 derajat Celcius. Aduh, sedih banget! Aku akhirnya memutuskan untuk madol lagi dari kantor dengan surat cinta karena menghemat jatah cuti buat persiapan Lebaran dan rencana ke Surabaya (maaf yah Bos!). Di hari Senin itu, Dira mulai ogah-ogahan makan, walaupun sudah dibuatkan bubur. Maunya hanya nenen. Sempat ketika siang hari Dira mau makan buburnya, dia minta nenen dan entah karena perutnya tidak enak atau kepenuhan, akhirnya Dira muntah kembali. Dira juga sempat pup dan konsistensi tinjanya mulai cair walaupun masih ada ampas makanan di dalamnya.</p>
<p>Siang harinya aku ajak Dira ke dokter anak di Hospital Cinere. Sayang, dokter langgananku baru praktek nanti malam. Mau menunggu kok rasanya terlalu lama. Setelah konsultasi ke dokter, akhirnya Dira diberi resep beberapa obat berikut : Vometa, Lacto-B dan Racikan (isinya Braxidin, Heptasan, Buscopan dan 1 jenis obat lagi yang aku lupa namanya) dan dianjurkan untuk memperbanyak asupan cairan terutama elektrolit seperti Pedialyte atau boleh juga Pocari Sweat.</p>
<p>Hingga Senin sore, Dira masih terus muntah dan semakin mengkhawatirkan karena isi muntahnya hanya cairan berwarna kuning bening dan pupnya sangat cair bahkan menyembur seperti saat kita berkemih. Akhirnya karena pertimbangan takut kehilangan banyak cairan, dengan terpaksa Dira aku beri obat antimuntah dan racikan dari dokter (aduh, padahal sangat irrasional sekali isinya). Muntah sempat berhenti, namun Dira masih mencret, nafsu dan makannya menurun dengan drastis. Perut Dira pun sangat kembung sehingga akhirnya aku coba pakai cara tradisional buat mengurangi kembung, daun jarak dibakar hingga layu, kemudian ditempelkan ke perut si anak yang dibalur dengan minyak telon/kayu putih. Lumayan sih, tapi memang hanya bersifat temporer.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Bersambung ke bagian 2 (soalnya capek nulis nih).  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/125/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/125/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=125&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/09/08/dira-sakit-lagi-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>