<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; nonton</title>
	<atom:link href="http://wearethepoets.wordpress.com/tag/nonton/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Mar 2009 09:33:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wearethepoets.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/124be1b9888904af467001c385d7425d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; nonton</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wearethepoets.wordpress.com/osd.xml" title="Obral Obrol &#8220;Keluarga Poet&#8221;" />
		<item>
		<title>Akyu agi nongtong Ma!</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/11/12/akyu-agi-nongtong-ma/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/11/12/akyu-agi-nongtong-ma/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 03:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[nonton]]></category>
		<category><![CDATA[Terrible Two]]></category>
		<category><![CDATA[Tolong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya tadi malam, sepulang aku dari kantor.
Seperti biasa, begitu aku buka pintu garasi, langsung disambut oleh bocah kecil yang berlari dari dalam rumah dan langsung minta digendong. Dan seperti biasa pula, bocah kecil itu menodong Mamanya untuk nenen. &#8220;Mama duduk cini. Diya nenen.&#8221; ujarnya. Yup, itulah Dira Poet dan ritual harian yang dilakukannya kalau Mama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=200&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kejadiannya tadi malam, sepulang aku dari kantor.</p>
<p>Seperti biasa, begitu aku buka pintu garasi, langsung disambut oleh bocah kecil yang berlari dari dalam rumah dan langsung minta digendong. Dan seperti biasa pula, bocah kecil itu menodong Mamanya untuk nenen. &#8220;Mama duduk cini. Diya nenen.&#8221; ujarnya. Yup, itulah Dira Poet dan ritual harian yang dilakukannya kalau Mama pulang dari kantor.</p>
<p>Setelah puas disusui, Dira mengajak naik ke lantai atas. &#8220;Akyu mo nayik.&#8221; ucapnya. </p>
<p>&#8220;Dira, pipis dulu yuk.&#8221; panggil Mbak Mis. &#8220;Dari tadikan belum pipis.&#8221;<br />
&#8220;Ayo dek, pipis dulu baru naik ke atas.&#8221; imbuh Mama Poet.<br />
&#8220;Endak..akyu endak mo pipiys..&#8221; tolak Dira.</p>
<p>Mama dan Dira Poet pun naik. Setiba di kamar atas, Dira langsung lari mengambil tempat CD dan mengambil DVD Bee Movie. &#8220;Dira mau nonton?&#8221; tanya Mama Poet. Dia mengangguk. Saat aku hendak menaruh DVD ke dalam player, Dira berkata,&#8221;Endak ntu Ma.&#8221; dan berdiri kaku di tempat (kaki dirapatkan dan tangannya memegangi perut).</p>
<p>Mama Poet berpaling ke arahnya dan seperti yang bisa diduga, currrr&#8230; pipis deh. Mama Poet langsung mengomel. &#8220;Dira, tadi ditawarin pipis katanya gak mau. Kan Mama sering bilang kalau mau pipis atau pup, ngomong aja. Sekarang turun dulu dan ganti celananya.&#8221; Dira pun dibawa turun oleh Mama Poet untuk dipakaikan celana oleh Mbak Mis. Mama Poet pun mandi.</p>
<p>Setelah Mama Poet mandi, ternyata Dira sudah berada lagi di kamar dan sedang asyik menonton VCD lagu kanak-kanak. Mama Poet hendak mengambil baju ke lemari saat melihat clutchnya tergeletak di lantai bersama dengan pengisi tas saat disimpan. Sebenarnya akhir-akhir ini pemandangan ini sering terlihat di kamar karena Dira sedang senang bermain dengan clutch tersebut. &#8220;Hmm, Dira&#8230;&#8221; pikirku. Aku pungut clutch dan memasukkan kembali pengisinya.</p>
<p>&#8220;Dira, tolong dong tas Mama dikembalikan ke dalam lemari. Kan Dira yang tadi main. Abis main diberesin lagi dong Sayang.&#8221; ujar Mama Poet sambil mengulurkan clutch tersebut ke arah Dira yang berkonsentrasi dengan tontonannya. &#8220;Dira&#8230;&#8221; panggil Mama Poet lagi. &#8220;Ayo dong Nak. Tolong Mama nih. Tasnya dikembalikan ke lemari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akyu agi nongtong Ma!&#8221; ujar Dira sambil menatap Mama Poet.</p>
<p>&#8220;Iya, Mama tahu Dira sedang nonton. Mamakan minta tolong supaya tasnya dikembalikan ke lemari karena Dira yang mainin kan. Tolong dong Nak!&#8221; ucap Mama Poet dengan suara mulai meninggi. </p>
<p>Dira masih dengan menggemaskannya menggeleng dan berteriak, &#8220;Endak Ma&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Dira! Kalau tidak mau tolong Mama, tidak usah nonton. Mama matikan yah lagunya. Tolong dikembalikan.&#8221; ujar Mama Poet.</p>
<p>&#8220;Akyu endak mo Ma. Akyu mo nongtong.&#8221; jeritnya. Air matanya mulai menetes disertai dengan gelengan kepala. </p>
<p>Mama Poet berjalan ke arah tivi dan player. Dashh&#8230; player dan tivi mati. &#8220;Mama minta tolong Dira baik-baik yah. Kalau Dira tidak mau bantu Mama, Dira tidak boleh nonton. Dira juga kalau minta apa selalu diikutin kan? Sekarang Mama cuma minta tolong untuk ngebalikin tas ke lemari, Dira gak mau. Kalau Dira bantu Mama, Dira boleh nonton lagi.&#8221; ujar Mama Poet. </p>
<p>Mama Poet pun memakai baju sambil melirik ke bocah kecil yang sedang bertingkah keras kepala. &#8220;Akyu mo nongtong&#8230;huhuhu&#8230;akyu mo nontong.&#8221; ujar si bocah kecil sesunggukan. &#8220;Tidak bisa sebelum tas Mama dikembalikan.&#8221; tegas Mama Poet. </p>
<p>Dira semakin marah. Ia mengambil tas yang Mama letakkan di depannya dan dukkk&#8230; tas dilempar dan mengenai meja rias. Mama Poet berpaling ke arahnya dan menatap tajam. Dira menangis dengan kencang sambil menghentakkan kaki di atas tempat tidur. Mama Poet masih terus menatap Dira sambil berdiam diri. </p>
<p>1, 2, 3&#8230;. Dira bergerak turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah tas yang dilemparnya tadi. &#8220;Horeeee&#8230;&#8221; teriak Mama Poet dalam hati. &#8220;Senang banget lihat anak Mama akhirnya tergerak untuk mengembalikan tas ke tempat asalnya.&#8221; pikir Mama. Benar saja, walau sambil menangis sesunggukan tas tersebut dikembalikan oleh Dira ke dalam lemari. Setelah menutup pintu lemari, Dira menatap Mamanya seolah menagih janji.</p>
<p>Mama Poet pun menghampiri Dira untuk memeluk dan mengecup pipinya. &#8220;Nah gitu dong! Anak Mama kan pintar. Kalau abis main, dikembalikan lagi dong. Sekarang Dira sudah boleh nonton lagi.&#8221; ujar Mama Poet seraya menghidupkan kembali tivi dan player. </p>
<p>Dira pun kembali menonton. Sementara Mama Poet sibuk mengganti seprai. Sesekali perlu juga keinginan anak tidak diturutin kan? Walau pun mungkin dengan cara yang agak &#8216;keras&#8217; tapi masih dalam batas. Selama bukan dengan kekerasan fisik atau kekerasan verbal yang berlebihan. </p>
<p>2 years old toddler, really, is the &#8220;terrible two&#8221; indeed.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=200&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/11/12/akyu-agi-nongtong-ma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masa tenang sindrom si Dira</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/08/28/masa-tenang-sindrom-si-dira/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/08/28/masa-tenang-sindrom-si-dira/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 08:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[janji]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>
		<category><![CDATA[nonton]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya semua sindrom yang dialami Dira mulai memasuki masa tenang alias cooling down&#8230;
Dira sudah tidak susah bobok malam lagi. Tapi syaratnya, siang hari dia harus bergerak aktif dan sebelum tidur harus diajak bercanda dulu, nonton Barney/Dora/Bobby Bola, dan wajib nenen kalau Mama pulang kantor. Hasilnya, sekarang Dira bobok tepat waktu, pukul 20.30 WIB.
Dira sudah mau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=119&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akhirnya semua sindrom yang dialami Dira mulai memasuki masa tenang alias cooling down&#8230;</p>
<p>Dira sudah tidak susah bobok malam lagi. Tapi syaratnya, siang hari dia harus bergerak aktif dan sebelum tidur harus diajak bercanda dulu, nonton Barney/Dora/Bobby Bola, dan wajib nenen kalau Mama pulang kantor. Hasilnya, sekarang Dira bobok tepat waktu, pukul 20.30 WIB.</p>
<p>Dira sudah mau ditinggal kerja dan tidak menangis dengan heboh lagi. Malah, dia melambaikan tangannya dengan pintar sambil berkata, &#8220;Ati-ati Ma. Dadahhh&#8230;&#8221; dan diulang berkali-kali. Tapi di hari Sabtu dan Minggu, sindrom cinta Mama yah kumat lagi. Yang lebih parah adalah kalau jalan-jalan ke Mal, Dira hanya mau digendong oleh Mamanya, tidak mau dengan Papa. Jadi kebayang kan gimana pegalnya aku kalau mengajak Dira pelesir. Pfffhhh&#8230;.</p>
<p>Dira sudah tidak menangis di kelas kelompok bermainnya. Masalah ini berkaitan dengan masa adaptasi seorang anak dengan lingkungan barunya, bukan karena Dira mengantuk seperti yang dipikir oleh Mbak Mis. Jadi, terakhir kali dia ribut minta ditemani di ruang kelas adalah saat terakhir kali Mama membolos kantor dan mengantar Dira ke sekolah (2 minggu yang lalu). Setelah fase itu, Dira akhirnya tenang saja saat mulai aktivitas di kelas. Memang sih sesekali dia masih bertanya, &#8220;Ma miy nana?&#8221;. Tapi setelah dijawab oleh kakak pembimbing di Sanggar Kelinci kalau Mbak Mis ada di luar menunggu Dira, dia langsung mengerti dan tidak minta Mbak Mis masuk kelas lagi. Keuntungannya? Si Mbak Mis bisa ngerumpi dengan mbak-mbak lain yang juga sedang menunggu.</p>
<p>Nah perkembangan yang paling seru sekarang adalah Dira mulai punya memori jangka panjang. Jadi, jangan coba-coba berjanji apa pun padanya kalau belum tentu bisa memenuhinya karena Dira pasti ingat dan menagihnya. </p>
<p>Contohnya beberapa malam yang lalu, saat mau tidur aku ajak Dira pipis. Tadinya Dira tidak mau. Kemudian aku bilang, &#8220;Nanti kalau pipisnya pintar, Mama kasih stiker deh!&#8221;. Nah, setelah pipis dan kita naik ke kamar atas untuk tidur, saat sedang nenen tahu-tahu Dira teriak,&#8221;Tingke, tingke, tingke,&#8221; sambil telunjuk tangan kirinya menunjuk lengan kanan. Aku bingung dan bertanya, &#8220;Kenapa sih? Gatal? Sini Mama garukin deh,&#8221;. Dira semakin mengamuk dan buat aku kebingungan. Akhirnya aku bilang begini, &#8220;Ya sudah, Dira mau apa? Mama gak ngerti nih. Coba tunjukin Mama,&#8221;. Kita turun dari tempat tidur dan ternyata Dira mengajak turun ke bawah, dan kemudian dia menunjuk ke atas aquarium, di mana Mamanya biasa meletakkan sticker, &#8220;Tingke Ma! Pu mio!&#8221;. Aku langsung terbahak dan meminta maaf karena lupa menempelkan sticker yang tadi dijanjikan. </p>
<p>Kejadian hampir sama terulang lagi semalam. Aku mengajak Mbak Mis ke Tasya Baby Store di Cinere Raya. Namun karena suaminya belum pulang, si mbak belum berani meninggalkan rumah. Akhirnya aku batal turun di Tasya dan langsung pulang ke rumah. Begitu sampai rumah, aku heran karena mendengar suara Dira ribut dan ketika dia muncul menyambut kepulanganku, kedua tangannya memegang sendal Mickey. &#8220;Ini loh mbak, tadi dibilangin mau nyusul Mama ke Tasya gak? Eh langsung heboh. Apalagi pas bajunya digantiin,&#8221; lapor Mbak Mis. &#8220;Loh, memang Dira mau pergi?&#8221;, tanyaku. &#8220;Pigi Ma. Diya mo pigi.&#8221;, jawab Dira. Akhirnya setelah aku mandi, kita semua pergi ke Tasya. Aduh anak ini! Benar-benar deh! </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=119&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/08/28/masa-tenang-sindrom-si-dira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>