<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; maternal leave</title>
	<atom:link href="http://wearethepoets.wordpress.com/tag/maternal-leave/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Mar 2009 09:33:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wearethepoets.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/124be1b9888904af467001c385d7425d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Obral Obrol "Keluarga Poet" &#187; maternal leave</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wearethepoets.wordpress.com/osd.xml" title="Obral Obrol &#8220;Keluarga Poet&#8221;" />
		<item>
		<title>Cerita Mama, on maternity leave</title>
		<link>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/06/11/cerita-mama-on-maternity-leave/</link>
		<comments>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/06/11/cerita-mama-on-maternity-leave/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 03:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thepoets</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Dira]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[breast pump]]></category>
		<category><![CDATA[klinik laktasi]]></category>
		<category><![CDATA[maternal leave]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wearethepoets.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Satu minggu pertama setelah kelahiran Dira merupakan minggu yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak? Adanya Dira membuatku merasa punya mainan baru. Banyak yang harus dipelajari mulai dari cara mandi, mengurus tali pusat, cara memakaikan baju, cara menggendong, dan lain-lain.
Semuanya terasa menyenangkan dan bertambah seru dengan adanya rasa senut-senut di bagian selangkangan. Soalnya, jahitan akibat episiotomi alias pengguntingan saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=21&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Satu minggu pertama setelah kelahiran Dira merupakan minggu yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak? Adanya Dira membuatku merasa punya mainan baru. Banyak yang harus dipelajari mulai dari cara mandi, mengurus tali pusat, cara memakaikan baju, cara menggendong, dan lain-lain.</p>
<p>Semuanya terasa menyenangkan dan bertambah seru dengan adanya rasa senut-senut di bagian selangkangan. Soalnya, jahitan akibat episiotomi alias pengguntingan saat melahirkan, belum kering benar. Belum lagi mengurus diri sendiri yang juga bikin heboh. Mulai dari pakai baluran di perut, minum jamu, sampai pakai gurita (maunya sih pakai stagen, tapi kok malas banget!) </p>
<p>Lucu kalau lihat Dira saat dimandikan. Kelihatan sekali kalau Dira sangat suka dengan air. Pokoknya setiap kali dimandikan dalam baknya, langsung melek dan tertawa sambil kakinya ditendang-tendang. Dan setiap selesai mandi, pasti langsung tidur pulas lagi. Apalagi kalau kelonan sama Mama yah! Cuma kebiasaan dari bayi, Dira paling tidak suka dibersihkan hidungnya dengan cotton bud, pasti langsung &#8220;oekkk&#8230;&#8221;. Sampai sekarang juga begitu. Kalau lagi pilek, mau disedot ingusnya atau dibersihkan dari ingus yang mengering, pasti langsung protes, geleng-geleng kepala, dan terkadang langsung berguling menghindar.</p>
<p>Oya, selama 1 minggu setelah kelahirannya, Papa Poet cuti buat ikut bantu urus Dira. Lucu juga lihat Papa Poet gendong Dira. Sayangnya, si Papa ini cuma bisa gendong Dira dengan cara direbahin di dadanya. Sementara kalau gendong gaya &#8220;sling&#8221;, Papa Poet kagok banget, bahkan sampai sekarang (kalau disuruh pindahin Dira yang lagi tidur). Dari sini saja ketahuan kan kalau Papa Poet belum pernah gendong Mama Poet he he he&#8230;</p>
<p>Yah pokoknya 1 minggu pertama bahagia sekali karena aku merasa keluargaku lengkap. Saat minggu kedua, Papa Poet yang sudah habis cuti, harus kembali bekerja yang artinya kembali ke Cilegon selama 1 minggu. Hiks hiks&#8230; It was like I am a single parent! </p>
<p>Memasuki minggu kedua itu, aku mulai agak kewalahan mengurus Dira. Ini akibat tidak kurangnya porsi tidur hampir 2 malam karena menahan rasa mulas kontraksi. Belum lagi saat di rumah sakit, aku tidak memanfaatkan waktu 3 hari di sana buat beristirahat karena terlalu &#8216;excited&#8217;. Dan aku terkadang terlalu gengsi untuk minta bantuan orang lain buat mengurus Dira. Rasanya sulit sekali buat melepas Dira. Paling Mama yang aku minta bantuannya untuk memandikan atau menimang-nimang Dira. Tapi itu juga kalau beliau sedang tidak sibuk dengan urusannya.</p>
<p>Menjelang minggu ketiga, Mama pergi selama hampir 3 hari ke luar kota. Aku ingat sekali saat itu Dira, yang biasanya diam dan tidur lelap, mulai sulit untuk tidur. Maunya disusui terus-menerus. Aku sempat agak kesal karena pada masa awal itu, aku menyusui sambil duduk di kepala tempat tidur. Jadi bisa dibayangkan betapa pegalnya harus menyusui selama berjam-jam. Kalau sudah begini, biasanya tabiat jelek keluar deh seperti ngambek (kebayang kan gimana ngambek sama anak bayi), ngomel-ngomel dan cemberut. Kalau kata teman-temanku di kantor yang baru ini,&#8221;Elu tuh yah Ke, anak kecil yang punya anak.&#8221; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oya, yang paling tidak menyenangkan selama maternal leave ini adalah hobiku jalan-jalan jadi terpupus. Soalnya tidak tega banget meninggalkan Dira di rumah sementara mamanya jalan-jalan ke mall. Sementara mau diajak juga kasihan karena takut juga sih si bayi tertular bermacam penyakit. Kekhawatiran yang wajar kan? Tapi sempat juga sih si Dira main ke Citos, PIM dan ITC karena Mamanya mau cari baju buat ke kantor akibat berat badan belum turun ke normal (jauh banget malah!). Seru deh bawa Dira ke mall soalnya digendongnya masih pakai tangan dan tidak bisa gantian sama Papanya kalau Dira bobok (belum kepikiran beli baby carrier dan stroller sih). Capek dan seru!</p>
<p>Dari usia kehamilan 7,5 bulan, aku sudah siap perang buat memenuhi komitmen akan memberikan ASI eksklusif dan mempersenjatai diri breast pump merk Medela type Harmony. Tapi, breast pump ini hanya terpakai dua kali. Uji coba pertama terjadi di minggu pertama setelah Dira lahir karena dia masih suka tidur terus sehingga payudaraku bengkak. Hasilnya, gagal total! Malah aku sampai nangis karena bukan ASInya keluar, malah putingku berdarah. Uji coba kedua terjadi, 3 minggu sebelum maternity leave berakhir. Hasilnya? Gagal lagi karena rasanya sakit banget! (mungkin agak trauma juga dengan uji coba yang pertama)</p>
<p>Perjuangan uji coba breast pump berlanjut. Aku mencoba breast pump hadiah dari temanku, merk Nuk. Gagal juga soalnya cara kerjanya aneh. Lagipula jenis breast pump ini ditujukan untuk pemberian langsung ke bayi, bukan untuk stok.</p>
<p>Menjelang minggu keempat dari maternity leave, aku mulai agak panik dengan urusan stok ASI. Dari rekomendasi teman baikku, akhirnya aku coba membeli breast pump elektrik merk yang kurang terkenal karena harganya lebih murah daripada Medela. Hasilnya yah sama saja, gagal! Soalnya rasanya aneh banget saat breast pump dihidupkan. Awalnya geli, belakangan sakit. Aduhhh benar-benar aku tambah bingung. Akhirnya aku ajak Mama buat ke ITC beli breast pump manual merk Pigeon. Hehehe yang ini lumayan berhasil sih. Cuma kok setelah dipompa, payudaranya langsung kempes dan waktu yang dibutuhkan buat terisi kembali sangat lama. Tapi yah paling tidak, rencana buat stok ASI bisa dijalankan.</p>
<p>Dari hasil browsing di internet mengenai perah ASI, pada akhirnya aku mendapat informasi mengenai klinik laktasi di beberapa rumah sakit. Salah satunya adalah klinik laktasi di RS St. Carolus. Tepat 1 minggu setelah lebaran, aku, Dira dan Papa Poet pergi ke St. Carolus. Ampun, antri sekali! Penuh dengan ibu dan ayah yang hendak berkonsultasi soal ASI. </p>
<p>Aku sempat berbincang dengan seorang bapak yang mengantar istrinya.<br />
Mama Poet : Anaknya umur berapa bulan Pak?<br />
Bapak : 1 bulan mbak. Mbak mau konsul juga ke klinik?<br />
Mama Poet : Iya Pak. Biasa, 10 hari lagi aku masuk kantor. Mau ASIX, tapi gak pede karena perah pakai breast pump kok rasanya aneh. Jadi yah coba ke sini. Dapat info dari internet sih. Kalau Bapak?<br />
Bapak : Kalau saya sih karena istri saya keluar ASInya sedikit sekali. Jadinya anak saya campur dengan susu formula. Padahal dia gak kerja mbak. Jadi saya pikir sayang juga kalau tidak full ASI. Istri saya sih gak coba cari-cari ilmu. Ini saja saya direkomendasikan sama teman kantor.<br />
Mama Poet : Iya Pak. Sayang kalau tidak diusahakan ASIX, apalagi kalau ibunya tidak bekerja kantoran.</p>
<p>Setelah menunggu hampir 2 jam, tepat pukul 11.30 kami dipanggil masuk.</p>
<p>Dokter : Siang Bu. Mau dibantu apa?<br />
Mama Poet : Begini loh Dok&#8230;. (bla bla bla&#8230;cerita tentang keinginan belajar perah ASI, dst)<br />
Dokter : Anaknya laki-laki bu?<br />
Mama Poet : Enggak Dok! Perempuan&#8230;<br />
Dokter : Perempuan? Oh iya.. pakai anting-anting. Maaf.<br />
Mama Poet : Gak papa Dok. Mukanya kayak anak cowok sih (hmmpfff&#8230;).<br />
Dokter : Sekarang ibu ke bagian sini, bapaknya keluar dulu yah.</p>
<p>Aku diajak ke ruangan bertirai yang sudah berisi beberapa ibu yang bertelanjang dada dan sibuk dengan lap buat kompres, 2 buah baskom dan 2 buah gelas. Dokter menjelaskan kegiatan di sana dan kemudian giliranku tiba untuk ikut bertelanjang dada.</p>
<p>Dokter : Jadi begini bu, sebaiknya payudaranya rutin dipijat. Suster akan mengajarkan 3 cara pemijatan payudara. Selain ibu, sebelum memijat, ada baiknya ibu juga mengompress payudara dengan air panas dan air dingin secara bergantian.<br />
Suster : Cara mengompress payudara seperti ini. Kemudian cara pemijatannya begini. (mencontohkan)<br />
Mama Poet : Saya coba yah.<br />
Dokter : Nah sudah selesai bu? Cara perah ASInya begini, gerakannya dari atas ke bawah, jangan terlalu keras dan jangan kena areola. Nah tuh keluar&#8230;<br />
Mama Poet : Ohh begini yah dok.<br />
Dokter : Sebaiknya nanti saat ibu bekerja, bayinya minum ASI dengan cara disendokin atau menggunakan gelas ASI. Gelas ASI bisa dibeli di apotik RS kok. Simpan ASInya juga diusahakan dibotol kaca, jangan botol plastik. Buat ASI yang dibekukan di freezer bisa tahan 3 bulan, kalau di kulkas bawah sekitar 6-8 jam. Kalau bisa, pemanasan ASI jangan di atas api langsung karena akan merusak zat-zat yang ada.<br />
Mama Poet : Ohhh begitu.<br />
Dokter : Nah tuh anaknya pintar minum pakai sendok. Nanti kita coba pakai gelas ASI yah.</p>
<p>Setelah akhir sesi konsultasi, aku bergegas ke apotik RS untuk membeli gelas ASI dan botol kaca bening. Aduhhh.. semoga usaha ini berhasil. Paling tidak kalau perah ASI dengan tangan, aku tidak perlu repot membawa breast pump kan. Breast pumpnya juga tidak perlu repot dicuci, disterilkan, dan urusan repot lainnya. Pasti bisa! (kesimpulannya, breast pumpnya jadi menganggur deh!)</p>
<p>Selama sisa maternity leave, aku terus berusaha berlatih memerah ASI. Hasil perahanku ternyata tidak terlalu banyak yah. Maksimal hanya 100 ml. Mungkin karena pada dasarnya volume isap ASI Dira juga tidak terlalu banyak. Makanya terkadang iri juga dengar ibu-ibu lain cerita kalau volume ASInya sampai 300 ml sekali perah. Huebatt!</p>
<p>Botol yang kubeli di St Carolus aku jadikan stok buat ASIP Dira. Sayangnya karena saat itu botol yang tersedia hanya 1 lusin, jadinya stok yang akhirnya tersedia buat Dira cuma sedikit. Dan memang sih, pada akhirnya aku selalu kejar-kejaran stok ASI.</p>
<p>Pada akhirnya, maternal leave harus berakhir setelah 45 hari (ditambah 3 hari, jatah libur lebaran). Sedihhh banget saat pertama meninggalkan Dira untuk kembali bekerja. Sedih disebabkan oleh beberapa alasan :</p>
<ol>
<li>Tidak bisa memandikan Dira lagi (karena hak ini sudah direbut oleh mertua dan kakak iparku, termasuk di hari libur.. hikss, nanti aku bakal cerita deh di posting berikutnya)</li>
<li>Timbul keinginan buat berhenti bekerja saja dan mengurus Dira, tapi sayang niat ini belum bisa dilakukan karena masih jadi financial support buat Papa Poet</li>
<li>Harus meninggalkan rumah Mama dan kembali ke rumah mertua. Mana kamarku dipindah ke kamar bawah yang notabene buat aku tidak nyaman</li>
<li>Dan lain-lain</li>
</ol>
<p>Tapi yah bagaimana lagi? Mau tak mau aku harus kembali bekerja kan? Mama kerja lagi yah Dira! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(I started to work again after my maternal leave over on Thursday, November 16th, 2006)</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>  </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wearethepoets.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wearethepoets.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wearethepoets.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wearethepoets.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wearethepoets.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wearethepoets.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wearethepoets.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wearethepoets.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wearethepoets.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wearethepoets.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wearethepoets.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wearethepoets.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wearethepoets.wordpress.com&blog=3892657&post=21&subd=wearethepoets&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wearethepoets.wordpress.com/2008/06/11/cerita-mama-on-maternity-leave/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a492295700c933e5c3884647d2337bb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thepoets</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>