Story Telling

Mama Poet dapat pekerjaan sampingan menjelang waktu tidur malam Dira Poet, yaitu menjadi seorang story teller.

Mengapa demikian? 

Ceritanya begini, si Dira lagi punya ritual sebelum tidur malam. Pertama adalah nenen (hehe, she’s almost 2,5 years now). Kedua adalah menghidupkan AC (ini karena kita harus pindah tidur ke kamar bawah yang ber-AC).

“Idupin ace Ma. Dira yang idupin Ma,” ucapnya selalu sambil bergegas mengambil remote control.

Ketiga adalah baca buku cerita (tepatnya membaca Bee Magazine). 

“Sekarang Dira yang baca buku cerita yah. Mama yang mendengarkan ceritanya,” ucapku.
“Ndak usahlah. Mama aja’” jawabnya selalu.
“Yah, gantian dong! Sekarang Dira yang bacain buku buat Mama,” jawabku.
“Mama ajalah,” ujarnya meyakinkan.
“Dira ajalah yang baca,” ucapku kembali.

Dan hasilnya, hehe, baca majalahnya bersama-sama. Cuma sayangnya, kebiasaan cara membacanya masih salah nih. Soalnya kita baca sambil tiduran. :(

Ritual keempat adalah bernyanyi. Ini ritual yang sempat hilang selama beberapa waktu. Namun rupanya tidak bisa benar-benar hilang karena sepertinya bernyanyi adalah hobi Dira. Hehe, hanya sekarang yang bernyanyi adalah Dira dan bukan Mama Poet. Yah, walaupun terkadang dia masih suka mengajak bernyanyi bersama-sama.

Akibat ritual keempat ini, suara nyanyian lagu kanak-kanak bisa terdengar hingga pukul 21.30 malam. Yah hitung-hitung ikut meramaikan suasana malam hari.

Ritual kelima atau yang terakhir adalah story telling yang dilakukan oleh Mama Poet. Awalnya Mama Poet hanya iseng membuat cerita dari boneka yang sering diajak Dira tidur (untuk meramaikan area tempat tidur). Mama Poet buat cerita mulai dari Elmo, Barney, Piglet, Kurcaci Jembatan (buat yang nonton Dora, pasti mengetahui soal Kurcaci Jembatan deh), hingga Kodok.

Hasilnya? Selain Dira merasa senang, ternyata melalui cerita dengan tokoh ini, Mama Poet bisa mengajak Dira untuk belajar berdoa. Hehe, sebenarnya sih cuma melancarkan hapalan doanya karena di Sanggar Kelinci sendiri Dira sudah diajarkan doa-doa kecil seperti doa sebelum tidur, sebelum dan sesudah makan, bila pulang sekolah dan doa untuk ayah-ibu. Malah, Mama Poet yang tadinya sudah lupa bacaan doa sesudah makan, Alhamdulillah, menjadi ingat kembali. Hehe, sempat malu juga karena Dira melafalkan doa sesudah makan dengan lancar.

Positifnya lagi, dengan story telling ini, perlahan-lahan Dira mulai diperkenalkan dengan konsep berhitung. Dulu, kalau disuruh berhitung, misalnya jumlah jari di tangan kanan, biasanya setelah angka 5, dia akan lanjut mengucapkan 6, 7,… hingga 10. Sekarang, Dira sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit kalau setelah behitung jari tangan kanan hingga 5, dia tidak perlu melanjutkan hingga 10.

Cuma, Mama Poet sekarang harus pintar berimprovisasi bikin cerita. Hiks hiks…. Dan harus siap untuk diminta bercerita setiap saat di luar jam menjelang tidur.

“Ceyita kodok, ceyita kodok Ma,” begitu cara Dira meminta Mama Poet untuk bercerita.

Atau, dia akan berkata,”Ceyita Jembatan gimana Ma?” Itu untuk meminta cerita tentang Kurcaci Jembatan.

Seru kan?

Jadi, memang story telling ternyata membawa manfaat lumayan banyak kok. Selain kelebihan yang sudah ditulis di atas, lewat story telling ini, saya juga merasa kalau qualified time dengan Dira bertambah. Dan, Alhamdulillah, Dira semakin dekat dengan saya dibandingkan ke Mbak Mis.

“Kalau Mama di rumah, mbak Mis no way!” :D

Leave a Reply