Liburan Ke Paiton (bagian 2)

Sambung lagi…
Maaf kelamaan soalnya sibuk ngurus blog yang satu lagi nih. :D

29 Desember. Setelah pulang dari berbelanja seprai di Grosir Surabaya, pukul 15.30 kita bergerak menuju lokasi mengumpul para penumpang bis PT YTL JT menggunakan taksi. Dan setelah hampir 30 menit menanti, bis berangkat juga dan dimulailah perjalanan selama 4 jam menuju Paiton.

Mama Poet tidak tidur sama sekali saat di bis. Penasaran! Mau tahu kira-kira Mama bisa cari kerjaan di mana. Dan ternyata? Wuihhh… jauh sekali. Bahkan dari Kabupaten Probolinggo sendiri, jarak ke Paiton masih sekitar 40 km. Pffffhh…. calon full time mom kayaknya nih.

Akhirnya, kita tiba di Paiton pukul 21.00. Dan dengan menggunakan becak, Papa dan Mama Poet, Dira, serta mbak Mis tiba di rumah dinas Papa Poet.

“Waduh.. lantainya lengket banget Pa!” ujar Mama. Papa Poet cuma cengengesan. Ketahuan deh… selama 1 bulan ini lantainya cuma disapu dan tidak pernah dipel sama sekali. Stik kain pelnya saja masih terbungkus rapi di sudut dapur. :P

Keesokan paginya baru kita bisa melihat dengan jelas kondisi rumah dinas di Paiton. Dan kesan pertamanya adalah “OK deh!”.

Jadi nih, luas rumahnya mungkin hanya sekitar 75-100 meter persegi. Terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 dapur dan 1 ruang makan sekaligus ruang tamu. Fasilitas yang disediakan juga lumayan kok, seperti tempat tidur, meja + kursi makan, televisi, sofa, mesin cuci, kompor dan tabung gas, kulkas, water heater, AC di tiap kamar dan kipas angin di ruang makan dan tamu. Lumayan kan?

Sayang Mama Poet tidak bawa kamera sehingga tidak bisa menunjukkan gambar rumah dan isi rumahnya. :P

Hari pertama di Paiton kita isi dengan berbelanja perlengkapan makan dan mencuci di pasar tradisional. Perlengkapan masak belum dibeli dengan pertimbangan toh hingga saat kepindahan Mama Poet dan Dira ke Paiton, Papa tidak akan melakukan kegiatan masak memasak. Hehe…

Kita pergi ke pasar tradisional menggunakan becak. Dikira dekat lokasi pasarnya, tapi ternyata lumayan jauh. Dan selama naik becak, rasa hati bat bit but karena kita melewati jalan umum luar kota yang dilalui kendaraan besar seperti bis, truk dan angkutan umum. Aduh, khawatir juga! Alhamdulillah sih tiba di pasar dan pulang kembali ke rumah dengan selamat.

Oya, selama di Paiton mbak Mis cuti masak tuh. Soalnya buat makan kita beli di restoran yang ada di pusat olahraga kompleks perumahan. Harga makanannya lumayan murah dibandingkan Jakarta. Mulai dari Rp 4000 hingga Rp 15000 per porsi untuk makanan Indonesia. Yah memang jatuhnya lebih mahal daripada kalau kita berbelanja dan masak di rumah. Tapi untuk saat itu, jajan menjadi pilihan utama.

Sayangnya selama di Paiton Dira jadi susah makan. Mungkin karena selama ini Dira jarang diajak makan masakan di luar rumah sehingga sulit menyesuaikan diri dengan ‘taste’ baru. Menu yang dipesan buat Dira paling hanya sop, soto ayam, telur dadar dan sayur asam.

Semua makanan itu pun bisa dimakan Dira dengan rayuan, mulai dari main ayunan di taman, berenang sampai mainin bola billyard. Yah apa saja deh yang penting makanannya masuk.

Dira sempat berenang juga loh. Mumpung ada kolam renang gratis nih ceritanya. Karena berenang di kolam anak, Mamanya cuma nyemplungin kaki sambil membantu Dira belajar mengapung. Dia sangat senang sekali berenang terutama ketika ada 2 orang anak berusia 6 tahun yang ikut nimbrung di kolam ini. Biasa deh.. show off sama yang lebih besar.

Sayangnya setelah 2 hari di Paiton tanpa berbekal mainan dan belum adanya teman main, Dira bosan. Dia bahkan sampai berkata dengan nada sedih, “Aku mo puyang Ma.”

“Loh, inikan rumah Dira.” kataku.
“Butan! Ini butan yuma Diya. Aku mo puyang.” ujarnya lagi.
“Kak, kalo Papa dengar Kakak ngomong begini, bisa sedih dia. Inikan rumah kakak, nantinya.” kataku. “Yang di Jakarta itukan bukan rumah kakak. Itu rumah Yangti lagi.” lanjutku
“Butan Ma! Ini butan yumaku.” kata Dira.

Mama dan mbak Mis bingung mau menjelaskan bagaimana lagi. Antara geli dan kasihan. Rupanya Dira benar-benar bosan.

2 Januari. Akhirnya Jumat tiba. Kita bersiap-siap untuk kembali ke Surabaya dengan menggunakan bis. Papa terlihat agak gloomy. Mungkin sedih juga akan ditinggalkan oleh 2 wanita cantiknya hingga 4 bulan ke depan. Pukul 16.30 bis berangkat menuju Surabaya.

3 Januari. Sambil menunggu jam kepulangan, kita melancong ke Grosir Surabaya lagi. Niatnya cuma membelikan daster batik buat ‘Nik. Eh kok malah beli baju buat Dira lagi…

Papa dan Dira bahkan sempat potong rambut di Tunjungan Plaza loh. Awalnya sih cuma Papa Poet saja yang berniat potong rambut. Tapi si Dira begitu ribut minta rambutnya diapa-apain hingga akhirnya rambutnya dipotong. Lucunya dia minta ikut keramas juga seperti kebiasaannya kalau mengantar Mama ke Salon Ferry di Cinere. Untung gak jadi keramas, soalnya pasti kena charge tidak seperti di Ferry.

Pukul 19.30 kita berangkat menuju stasiun Pasar Turi.

Pukul 20.00 kereta api Argo Bromo Anggrek tujuan Jakarta berangkat. Dira langsung minta nenen dan tidur pulas sepanjang perjalanan.

Sampai jumpa lagi Papa. Janji kok kita bakal menyusul dan menemani Papa di Paiton.

Wait for us yah Pa!

Leave a Reply