Susahnya toilet training

Topik toilet training seperti cukup sering dibahas di majalah parenting yang beredar di Indonesia. Bolak-balik baca di berbagai majalah ini, googling di internet dan bahkan diskusi dengan teman-teman yang berpengalaman (alias sudah punya anak lebih dari satu), teteup… susah banget pas praktekinnya. Contohnya ke Dira nih.

Dari sejak usia 6 bulan, Dira sudah dibiasakan untuk pup di kloset, dengan dipegangi tentunya. Bahkan, mulai usia 9 bulan, aku mengikuti saran teman untuk mendudukkan si anak kala tengah malam terlihat gelisah. Well, it worked. Karena Dira kalau tengah malam terlihat gelisah (badan berguling kiri-kanan dan kaki ditendang-tendang), saat didudukkan di kloset, pasti langsung pup atau pipis. Nah, cara ini berhasil hingga Dira menginjak usia 14 bulan.

Setelah usia 14 bulan, Mamanya mulai merasa lelah fisik dan tidak bisa bangun tengah malam (tidurnya kayak badak, pulas banget) buat melakukan ritual di atas. Why? Karena sejak lahir, bahkan sampai sekarang, tidur malam di hari Senin-Kamis tidak ada yang namanya bala bantuan dari suami. Jadi, semua benar-benar dilakukan sendiri. Makanya, alhamdulillah banget ASInya lancar sehingga tidak harus bangun malam buat bikin sufor (= susu formula). Baru Jumat malam saat Papa Poet tiba di rumah, ada sedikit bala bantuan di malam hari. Tapi yah, gak terlalu pengaruh juga sih dengan adanya Papa Poet. Soalnya sejak Dira mulai makan padat, Papanya jadi geli kalau disuruh cebokin pantat Dira setelah pup. Akhirnya, sebagai penyelesaian masalah ini, Dira kalau tidur dikasih disposable diaper (M*** P*** idolaku. Soalnya pakai yang lain, punggung bawah Dira selalu timbul ruam kemerahan).

Pakai diaper di malam hari terus berlanjut hingga Dira berusia 21 bulan. Sejak Dira dimasukkan ke dalam playgroup, pemakaian diaper agak berkurang. Soalnya, selama di sekolah Dira tidak diperbolehkan untuk memakai diaper sehingga bisa dilatih toilet training. Well, jelas dong aku senang dengan agenda ini karena sesuai dengan tujuan. Cuma, efek dari kebiasaan melepas diaper adalah Dira jadi tidak mau pipis/pup di diaper, kecuali benar-benar terpaksa. Bahkan saat tidur pun dia tidak mau pipis di diaper sehingga sering kali di pagi hari diapernya masih kering.

Awalnya sih Dira bisa mengikuti agenda toilet training ini dengan baik, walaupun masih belum bisa membedakan mana pipis dan mana pup. Terkadang mau pipis dibilang ee’, dan sebaliknya. Selain itu, Dira selalu memberikan tanda-tanda fisik. Misalnya saat mau pipis, pasti dia akan memegangi perut bawahnya dan merapatkan kedua kakinya. Sedangkan saat mau pup, dia akan terlihat gelisah dan berlarian kesana kemari seolah mencari tempat yang nyaman. Bahkan biasanya, dia akan berjongkok di pojok ruangan, dan… pup di celana. Makanya orang dewasa yang ada di sekitar Dira harus jeli mengamati tanda-tanda ini.

Selama masa ini, Dira kalau ditanya mau pipis/pup masih menjawab dengan baik dan bisa diajak kerja sama. Tapi, setelah berulang tahun yang ke-2 (alias 24 bulan), Dira seperti memasuki fase “I already know what I need to do for myself”. Ini berlaku di semua kegiatannya, mulai dari acara makan sampai toilet training. Berhubung cukup banyak majalah yang membahas mengenai “terrible two”, membuatku lumayan mengerti bahwa dalam fase ini si anak mulai punya kehendak sendiri dan tidak mau diatur oleh siapa pun.

Inilah yang sedang aku alami dan baru merasa betapa susahnya mengajarkan toilet training pada Dira.

Walaupun sudah diusahakan untuk membuat toilet training sebagai rutinitas, yaitu pipis setelah bangun tidur dan sebelum tidur, kok sepertinya susah sekali membuat Dira mengikuti hal ini. Bahkan, sejak dia semakin pintar berkomunikasi, kalau disuruh ditawarkan untuk pipis/pup, akan dijawabnya dengan 1 kalimat yang sama,”Tadi udah kan.”

Contoh percakapannya:
“Dira, mau pipis gak?” tanyaku.
“Ga mau.” jawabnya.
“Beneran gak mau? Mama mau pipis nih. Temenin yuk.” lanjutku lagi.
“Akyu ga mau pipisy, Tadi udah kan, Ma?” jawabnya lagi dengan pandangan mata berusaha untuk meyakinkan.
“Bener yah? Nanti kalau mau pipis atau ee’, bilang Mama loh. OK?” kataku.
“Ote..” jawabnya.

Ujung-ujungnya dari percakapan di atas, yah tetap saja Dira mengompol. Yang suka bikin aku kesal dan berakhir dengan omelan dini hari adalah kalau 2 jam sebelum tidur Dira minum susu botol (biasanya ditawarkan sama mbak Mis) dan menjelang tidur menolak tawaran untuk pipis, Dira pasti mengompol. Aku kesal karena jadi serba salah antara keinginan untuk memakaikan diaper dan melatih Dira untuk toilet training. Belum lagi mengingat fakta bahwa seprai harus diganti lagi karena sudah kali keberapa diompolin. *sigh*

Lainnya lagi yang bikin aku bingung adalah bagaimana menghilangkan kebiasaan Dira yang selalu mengutamakan untuk melakukan kegiatan lainnya dan menahan panggilan alamnya, misalnya saat sedang main dan menonton. Bahkan, hal ini juga terjadi di sekolah, dimana kalau Dira sibuk melakukan kegiatan sekolah yang menyenangkan dirinya, saat ditawari untuk pipis oleh Kakak Sanggar Kelinci, Dira akan menolak sehingga akhirnya berujung dengan ompolan.

Aduuuhhh! Kesal deh dengan urusan toilet training ini. Benar-benar butuh saran yang tepat cara mengatasinya. Soalnya kasihan juga Dira kena omelan terus. Takut jadi stress dan malah gagal belajar toilet training. Hmm, apa sebenarnya Dira belum cukup siap yah?

Pussssiiiingggg!!


Leave a Reply