Cerita yang agak terlambat. Bukannya tidak sempat ngeblog (di kantor hehehe..*ciri khas pegawai teladan*), tapi karena lagi malas mengetik di keyboard kompie kantor. Mau menulis di rumah juga gak bisa karena rebutan laptop sama Papa Poet. Akhirnya baru hari ini kesampaian.
Jadi ceritanya begini (baca baik-baik yah!).
Tanggal 22 Oktober 2008, sekolahnya Dira mengadakan acara outing class loh. Yang ikut tidak cuma TK A dan B, tapi juga kelas Yellow dan Blue (hmm, kalau mikirin warna kuning dan biru, jadi ingat salah satu merk margarin *Bl… Ba..*). Hmm, soal pengaturan outing class ini aku salut banget dengan manajemen Sanggar Kelinci. Soalnya, dengan uang tahunan yang tidak terlalu mahal, ortu tidak perlu mengeluarkan uang ekstra untuk acara outing class ini. Bahkan, dengar-dengar nih buat TK A, B dan Yellow akan ada kunjungan dokter gigi gratis (hiks Blue belum boleh ikut karena dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran kunjungan dengan tangisan
). Belum lagi acara lainnya yang telah diselenggarakan Sanggar Kelinci seperti Dongeng Islami dan beberapa acara lainnya yang sudah teragenda untuk tahun ajaran ini (termasuk tes kematangan buat TK B loh), semua gratis tis tis! (Note: Mama Poet bukan marketing Sanggar Kelinci loh! Hanya merasa beruntung bisa menemukan sekolah ini.)
Eh, lanjut cerita outing class-nya. Outing class Sanggar Kelinci tahun ini adalah kunjungan ke Lanud Halim Perdanakusuma untuk mengenalkan yang namanya kapal terbang atawa pesawat pada anak-anak. Tadinya sih kata Kak Viera, kita (eh anak-anak) dijanjikan untuk ikut merasakan saat pesawat jalan di landasan Halim (gak sampai take off). Tapi, sepertinya atasannya lupa menyampaikan kepada bawahannya sehingga akhirnya rencana gagal. Kita (oops, anak-anak) hanya mendapatkan penjelasan mengenai pesawat dan diijinkan untuk memasuki ruang kabin serta berfoto di cockpit.
Nah, di hari outing class itu, Dira susah sekali bangun pagi. Padahal menurut jadwal, pukul 08.00 sudah harus berkumpul di bis. Setelah dirayu sama Papa Poet dengan bisikan halus di telinganya bahwa kita akan naik pesawat, baru deh Dira bangun dan mau diajak mandi. Akhirnya kita (Dira dan Mama Poet) tiba di tempat keberangkatan pukul 08.10. Dan, seperti kebiasaan orang Indonesia yang terkenal akan jam karetnya, bis baru berangkat sekitar pukul 9 kurang (menunggu anak-anak yang sedang pipis, termasuk Mama Poet hehehe).
Sepanjang perjalanan Dira sibuk bernyanyi lagu anak-anak mengikuti VCD yang sedang diputar di bis. “Kyak agu anyak-anyak Diya ya Ma!” katanya. “Iya yah. VCD sama dengan yang punya Dira di rumah,” balasku. “Nya Diya di mah ya Ma,” katanya lagi. Aku manggut-manggut. Yah, lumayan deh disetel lagu anak-anak sehingga Dira bisa duduk diam di tempat duduk (hmm tepatnya berdiri berpegangan bangku di depan karena menonton VCD). Sempat sih Dira minta nenen, tapi hanya sebentar karena dia langsung berdiri dan menonton VCD lagi.
Pukul 10 lewat bis memasuki Lanud Halim. Setelah melapor, kita pun diantar oleh salah seorang perwira TNI-AU ke landasan pesawat. Jujur saja, baru kali ini Mama Poet memasuki kompleks TNI-AU, jadinya lumayan kagum juga melihat ada landasan pesawat di kompleks perumahan (ya iyalah Ma! plisss deh!).
Setelah anak-anak turun dari bis dan membentuk barisan (khususnya TK A, B dan Yellow karena anak-anak kelas Blue belum mengerti disuruh baris), kita diarahkan ke hanggar pesawat yang di dalamnya sudah parkir 2 pesawat dan 1 helikopter. Anak-anak pun diberi penjelasan mengenai bagian-bagian pesawat de el el (hmm Mama Poet sibuk fotoin Dira pakai kamera HP). Akhirnya setelah penjelasan selesai, rombongan anak-anak dibagi 2, TK A dan B melihat pesawat Boeing 737, sedangkan Yellow dan Blue melihat hmm versi yang lebih kecil (hehe lupa tipe pesawatnya).
Waduh! Lumayan heboh loh saat kelas Yellow dan Blue disuruh menaiki tangga pesawat. Kelas Yellow sih sudah lebih mandiri dan hanya butuh bantuan dari para kakak Sanggar Kelinci untuk menaiki pesawat. Sementara Blue? Seperti Bintang, sudah masuk ke dalam pesawat eh tahu-tahu menangis minta keluar dan menolak saat disuruh masuk kembali. Aurel dan Ghifa mau masuk kalau ibunya turut serta. Bagitu juga dengan Nabilla.
Sementara itu, “Eh mana si Dira?” pikir Mama Poet. “Loh anak gue kemana nih?” sambil tengok kiri kanan. “Ya ampun! Indira! Masa dia naik duluan dan Mamanya ditinggal sendirian di bawah tangga pesawat. Lupa dia ada Mamanya. Cckk…cckk! Akhirnya aku ikut menyusul memasuki pesawat dan hmmm si Dira sudah duduk anteng di kursi kabin dengan gayanya. Bener-bener nih anak! (geleng-geleng kepala sambil tertawa)
Sekitar 10 menit berada dalam pesawat tipe kecil, akhirnya kita berbaris keluar. Sumpah! Pesawat ternyata sumpek dan panas kalau mesinnya mati. Benar-benar tidak ada sirkulasi udara dan panas sekali. Nah, buat anak-anak yang ingin difoto di cockpit, kak Viera sudah siap dengan kamera digitalnya. Sayang Dira menolak untuk difoto dalam cockpit jadinya tidak ada kenang-kenangan deh.
Selanjutnya kelas Yellow dan Blue bertukar pesawat dengan TK A dan B. Di pesawat kedua ini, selain lebih lega (karena tipe pesawat lebih besar), udaranya juga lebih segar karena pintu di ekor pesawat dibuka. Setelah sibuk mengutak-atik meja lipat di kursi pesawat, Dira mengajak Mama Poet menuju kursi belakang. Dan… Dira minta nenen. Yah, walau agak keberatan, akhirnya Mama Poet kasih juga Dira buat nenen. Hehe, untung gak ada perwiranya yang ikut ke dalam pesawat yah!
Setelah selesai melihat-lihat, acara makan dimulai. Walau para ibu kelas Blue tidak mendapat jatah makan, namun ternyata kita semua kenyang juga karena bertindak sebagai “tong sampah” buat jatah makan anak yang tidak habis. Lumayan toh! Setelah makan, anak-anak diajak bermain lingkaran. Ada kuis juga loh yang berhadiah pesawat dari gabus. Pemenangnya tentu dari anak TK A dan B yang sudah bisa menjawab pertanyaan seputar pesawat. Anak kelas Yellow dan Blue hanya punya rasa “Mau pesawat juga”. Dan ini diwakili oleh 3 orang anak dari Blue yang menangis minta pesawat, yaitu Dina (waduh, heran juga lihat Dina yang pendiam ternyata bisa punya keinginan kuat), Ghifa (baru menangis di bis sampai akhirnya tidur) dan Nabilla (menangis sambil digendong mamanya).
Sekitar pukul 12 lewat, acara berakhir dan kita berkumpul kembali di bis untuk melakukan perjalanan pulang menuju Gandul. Untung selama perjalanan pulang Dira sempat bobok dan terbangun saat kita akan pulang ke rumah. Mama Poet dan Dira akhirnya sampai rumah pukul 1 siang dengan naik becak (Mama Poet terlalu capek buat berjalan sambil menggendong Dira).
Hah, selesai deh acara Outing Class-nya. Gak rugi kok Mama Poet ambil cuti mendadak dari kantor karena ternyata acaranya cukup menyenangkan. Jadi kepikiran buat melamar pekerjaan sebagai guru playgroup atau TK…
Oya, foto-foto Dira saat outing akan diupload nanti deh! (Kalau sempat karena harus ditransfer dulu ke HP Papa Poet baru ke laptop. Heran, kok bluetoothnya Acer Aspire gak mau menerima data dari bluetooth HP LG?)
Tunggu juga posting keluarga Poet selanjutnya yah!
Filed under: Tentang Dira | Tagged: Lanud Halim, Outing class, Pesawat terbang








