Melancong ke Plangi

Ceritanya hari Minggu kemarin, 21 September 2008, kita melancong ke Plangi. Awalnya sih tidak ada rencana untuk ke sana, karena Papa Poet cuma mau mampir ke pasar Radio Dalam buat membeli kelabang untuk makanan ikan. Wah, ternyata perpindahan pasar ikan dan bunga hias yang pindah dari Barito ke sana terlihat lebih rapi, walau belum seramai dulu.

Nah, kenapa kita bisa nyasar ke Plangi (alias Plaza Semanggi)? Ini karena selama di mobil Mama Poet sibuk ngomel dan bilang,”Aku sebel, aku sebel!”. Papa Poet pun bertanya, “Kenapa sih?”. Dan Mama Poet pun bercerita,”Aku sebel Pa. Aku beli bajukan pas Jumat malam ngelayap sendirian ke Citos tuh. Eh masa tadi pagi si mbak Mis bilang maaf ya mbak, aku juga beli baju hampir mirip dengan mbak, warnanya hijau juga, cuma yah harganya gak semahal punya mbak, abis aku suka model bajunya. Aduhhhh! Gimana aku gak meradang begini Pa. Huhuhu..sebel, aku sebel!”

Tahu yang menyahut? Dira! Hmm, tepatnya tidak menyahut sih, tapi membeo. Katanya,”Atu cebey, atu cebey,” (ha ha ha, sekarang memang kudu hati-hati ngomong kalau ada Dira). Sementara Papa Poet tetap diam, seperti biasa. Tapi, ternyata mobil diarahkan ke Plaza Semanggi. Yah, Mama Poet dan Dira manut wae!

Sampai di Plangi, ternyata kita turun dari lift yang menembus ke bagian busana wanita di Centro. Mama Poet cuma berani nyeletuk,”Wah, bajunya bagus-bagus yah Dira. Jadi ngiler!” Sementara itu, Dira sibuk pegang sana sini. Mulai dari baju, celana dan sepatu yang dipakai mannequin, sampai item yang sedang obral. Hehe, sepertinya bakat shopping Dira mulai keluar nih (yang berarti harus diwaspadai).

Tapi, sebagai istri yang baik (hehe) dan melihat suami gak betah di bagian wanita, akhirnya kita naik ke lantai atas. Benar saja! Tak lama kemudian Papa Poet yang sibuk mencari baju koko dan celana panjang. Coba celana dari salah satu counter, ternyata ukuran yang dicari tidak ada. Kami pun beralih ke counter yang lain dan akhirnya bisa menemukan yang dicari. Setelah hunting celana panjang selesai, Papa Poet melanjutkan perburuan baju koko. Aduh, kenapa bisa dia yang shopping duluan?

Sementara Papa Poet sibuk mondar-mandir mengitari Centro, Dira repot dengan bawaannya. Yah, sejak turun dari mobil, Dira sudah ribut dengan keinginannya buat membawa tas. Mau tak mau Mama Poet mengalah dan menurunkan semua isi tas bekal Dira dan diisi dengan 1 pampers, 2 susu UHT, 1 dompet dan 1 dust bag Mama Poet. Selama acara berbelanja di Centro pun, dengan tekadnya yang kuat Dira membawa tas tersebut. Tawaran Mama pun untuk membantu dengan tegas ditolak. Wah kebetulan deh, Mama jadi istirahat.

Satu kejadian lucu saat berbelanja. Sementara Papa Poet sedang pilah pilih celana, Dira yang menemukan rak etalase berisi topi, langsung duduk berjongkok depan rak itu. Kemudian sambil menunjuk topi, dia pun mulai bernyanyi,”Topiy caya bunda, bunda topiy caya, kayo bukan bunda, bukan topiy caya”, yang diulang berkali-kali. Mama Poet yang menyaksikannya sampai tertawa. Dasar Dira! Lagi terobsesi dia dengan lagu Topi Saya, jadi yah bolak-balik nyanyi itu terus.

Menjelang pukul 12 siang, Mama Poet mengajak Papa Poet untuk mencari makan buat Dira. Yang besar sih cuma menemani karena sedang puasa. “Hmm, kok Papa tidak menawari Mama belanja sih? Payah nih!”, pikir Mama Poet. Setelah memesan nasi Hainam dan bebek goreng di Rice Bowl, Dira pun makan sambil berlari-lari. “Aduh, Dira… Mama kan puasa, masa kasih makan harus kejar-kejar kamu sih!”, teriakku berulang kali. Hampir 45 menit acara makan berlangsung.

“Mama gak mau belanja?”, tanya Papa Poet. “Eh, kok tumben dia ingat nawarin?”, pikir Mama Poet. “Hmm, mau sih, tapi bisa ngilangin stress gak?”, tanya Mama Poet. Tanpa menunggu jawaban dari Papa Poet, kami melangkah menuju Centro lagi (hehehe tadinya sih mau belanja yang di lantai GF atau UG tuh, tapi Centro saja ah!). Mama Poet sih tidak butuh waktu lama buat mencari keinginannya. Berhubung Jumat malam sudah belanja di Matahari-Citos, Mama jadi punya sedikit referensi apa yang mau dibeli. Akhirnya, 1 buah baju dan 1 buah celana panjang berhasil dikantongi dengan gratis (alias tidak pakai uang sendiri). Caranya, begitu kuitansi dikasih, Mama Poet langsung menyerahkannya kepada Papa Poet dan bilang,”Papa yang bayarin yah. Kan sekali-sekali beliin istri.” Yihaaa…akhirnya berhasil dapat baju dan celana baru lagi. Soalnya lumayan banyak baju dan celana lama yang dihibahkan kepada orang.

Setelah acara belanja selesai, kami pun kembali pada tujuan semula, pasar Radio Dalam. Hanya sebentar Papa Poet turun untuk membeli kelabang, perjalanan dilanjutkan kembali ke Cinere. Dira sudah tidur dengan tenangnya di gendonganku begitu keluar dari Plangi. Aku pun ikut tertidur pulas di mobil dan baru terbangun mendekati daerah Karang Tengah. Ah, capek juga ternyata berbelanja. Terlalu lama berkeliling Centro sepertinya. Tapi seru juga karena Dira pun membawa suasana belanja jadi lebih ceria, lucu, walaupun sering juga bikin kesal. Dan…. yang jelas rasa sebal Mama Poet sama mbak Mis pun berkurang. Yah, capek-capek deh mikirin kenapa sih dia ikut-ikutan beli baju yang modelnya hampir sama denganku. Toh, pakainya juga tidak bersamaan. Tul kan?

Peace Man!

3 Responses

  1. Waahh…syenengnya yang abis borong2 baju buat lebaran.
    jangan sampe yang ini dikembarin lagi ya mb, hehehe..

    salam – dp

  2. hihhi, asik dapat baju gratis !!!! hehehe, aku juga sering kok kejadian si mbak ikut2 begitu, ambil senangnya aja, tandanya mama dira jadi panutan fashion…toh nanti juga dipakainya nggak barengan yaah… :) )

  3. iya sih bun, cuma awalnya sempat kesal ajah ha ha ha…soalnya aku ini plg susah cari baju yg sesuai selera. pas dah dapat, eh ada yg ngikut… murkana sekale rasanya!
    but that’s over…toh dapat tambahan baju (GRATIS!)

Leave a Reply