Tadi malam Dira panas. Memang sejak hari Minggu malam, ketika terbangun saat dipindah tidurnya, Dira mendadak tidak bisa tidur. Dia langsung ambil posisi menungging (seperti biasanya kalau perutnya tidak nyaman) dan mulai merengek. Dan seperti biasa lagi, Mama yang sudah mengantuk mulai merayu Dira. Mulai dari rayuan dikasih ‘nene’ sampai akhirnya Mama marah.
Mama Poet : Adek kenapa sih?
Dira Poet : Ee’…ee’…
Mama Poet : Ya udah pipis aja. Kan udah pake pempi ini. Ngapain lagi sih dibuka pempinya. Ayo dong bobok. Mama capek nih.
Dira Poet : Ee’… (sambil mulai menangis dan berguling)
Mama Poet : Sudah diam. Gak usah nangis. Sini, bukan pempinya lagi deh kalau mau ee’
Aku bawa Dira ke kamar mandi dan mendudukkannya di kloset. Aku tunggu sekitar 5 menit dan tidak ada sesuatu pun yang keluar, sementara mata Dira terpejam dan posisi kepalanya menyandar pada bahuku.
Mama Poet : Tuh… adek gak mau ee’ kan? Ayo ah bobok. Mama capek banget nih Dira.
Dira Poet : (menangis saat dibawa ke kamar untuk dipakaikan pampersnya)
Mama Poet : Udah ah. Ini nenen yuk, bobok…
Dira pun menyusu padaku hanya sekitar 5 menit dan kemudian dia berguling sambil mulai menangis lagi. Aku hanya menghela napas dalam-dalam, “Aduhhh kenapa sih anakku ini?”. Akhirnya aku ambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke perut Dira. Setelah sekitar 10 menit gelisah dan merintih, akhirnya Dira tertidur juga di atas kaki Papanya yang sudah lelap dari tadi. Aku pun ikut tertidur.
Tapi, tadi malam kejadian yang sama terulang kembali.
Saat aku hendak mengambil makan malam, Dira mendatangiku segera setelah suapan terakhir makan malamnya.
Dira Poet : Mama…. (sambil berlari dan kemudian menggenggam tanganku)
Mama Poet : Apa sayang? Mama mau makan dulu
Dira Poet : Ayo bobo’
Mama Poet : Hah?
Dira Poet : Ayo, Mama… bobo’
Mama Poet : Loh, jadi Mama diajak bobok nih? Kan mau makan
Dira Poet : Iya iya… ayo bobo’
Mama Poet : Ya sudah deh. Makannya nanti saja. Ayo
Dira menggandengku menuju kamar depan dan memang benar tak lama kemudian dia tertidur sambil mulutnya tidak lepas dari ‘nene’-nya. Dengan agak menahan nyeri, puting payudaraku yang terjepit di sela giginya akhirnya terlepas. Ah, aku bisa makan malam dulu nih. Setengah jam kemudian, aku gendong Dira untuk dipindahkan ke kamar atas. Dia sempat membuka mata, namun kemudian tertidur pulas lagi.
Sekitar pukul 9.00 malam, Dira merengek dan seperti biasa mulutnya mencari-cari ‘nene’. Aku sodorkan payudara ke mulutnya. Hap… loh kok kayaknya badannya hangat yah? Aduh, masa sakit sih?
10 menit kemudian setelah mulut Dira melepas ‘nene’, aku membuka pintu kamar (pintu geser sih, jadinya ribut), sontak Dira terbangun dan langsung menangis sambil memanggil “Mama… mama…”. Aku langsung berbalik menghampirinya,”Iya, Mama gak kemana2 kok. Adek mau pipis gak?”. Aku gendong Dira ke kamar mandi dan memang akhirnya dia pipis.
Dira Poet : Ma, ee’…
Mama Poet : Kalau mau ee’ ya sudah Mama tungguin nih. Atau cuma sakit perut?
Dira Poet : Peyut, atit
Aku ajak Dira turun untuk memakaikan minyak kayu putih pada perutnya.
Mama Poet : Sudah kan? Yuk kita bobok lagi:
Dira Poet : Peyut atit, ee’
Mama Poet : Adek kenapa sih yah? Sakit perut, tapi bukan mau ee’ kan? Mana badannya anget gini lagi. Yuk kita bobok. Mau minum dulu gak?
Dira Poet : Iya, enum
Setelah itu aku ajak Dira tidur. Hmm tambah hangat saja temperatur tubuhnya. Dira akhirnya tidur setelah aku gendong menyamping. Kasihan. Tak lama setelah dia tampak pulas, aku letakkan di atas tempat tidur dan aku pun menyusul tidur.
Pukul setengah dua belas, Dira merintih dan mulai menangis lagi. “Ee’.. ee’…”
Mama Poet : Aduhhh adek kenapa? Sakit perut lagi? Kenapa yah? Yuk ambil minyak angin ke bawah.
Dira Poet : Atit Ma…. peyut atit…
Aku gendong Dira ke kamar bawah lagi. Dira terus saja menangis dengan kencang sambil meronta-ronta sehingga akhirnya mbak Mis, pengurus Dira, ikut terbangun.
Mbak Mis : Kenapa mbak?
Mama Poet : Tau nih, dari tadi nangis bilang perutnya sakit. Badannya panas sih sekarang. Pegangin dulu mbak. Aku mau cari obat dulu.
Mbak Mis : Ayo sini, mbak wewe’ yah
Dira Poet : A Mi, tatit… Mama….
Mbak Mis : Mama gak kemana-mana kok, lagi cari obat
Dira masih saja terus menangis sambil berkata kalau perutnya sakit. Aduh Nak, kenapa kamu? Akhirnya aku menemukan obat Piptal Pediatrik dan terpaksa dikasih ke Dira untuk meringankan sakit perutnya yang sepertinya mirip dengan kolik sewaktu dia bayi. Tapi, 5 menit kemudian obat tersebut dengan sukses dimuntahkan kembali (rasanya memang tidak enak). Yah, Dira….
Dira Poet : Mama, eno Mama…
Mama Poet : Sssttt… udah diam yah. Dira bobok lagi Nak.
Mbak Mis : Wewe’ sama mbak yah
Dira Poet : Eno Mama
Mama Poet : Ya udah, sini Mama yang gendong
Aku pun menggendong Dira dengan posisi berdiri, kepalanya menyandar pada bahuku. Walaupun masih sesunggukkan, akhirnya setelah hampir 10 menit Dira perlahan tertidur kembali.
Mama Poet : Merem mbak?
Mbak Mis : Iya mbak
Mama Poet : Kenapa yah? Apa gara-gara kemarin main air di atas yah? Soalnya pas aku gak ngeliat, mulutnya dipasangin ke keran air. Aduh, jangan-jangan keminum deh air mentah. Abis ini pakai demam segala
Mbak Mis : Tadi pagi sih seharian tidur terus. Kayak gak enak badan.
Mama Poet : Yah udah deh. Elu tidur gih. Tolong ambilin minum Dira dan minyak anginnya.
Aku pun naik kembali ke kamar atas dan meletakkan tubuh Dira perlahan ke tempat tidur. Bobok yah Nak. Mama ngantuk sekali.
Sekitar pukul 2 dini hari, Dira kembali terbangun dan langsung menangis sambil berguling. Aku pun terbangun.
Mama Poet : Perutnya sakit lagi Nak? (aku raba kepala dan badannya) Aduh Dek, kok panas banget? Sini Mama gendong.
Aku pun menggendong Dira dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Sambil aku timang keliling ruangan, tangisnya pun berhenti dan dia kembali tertidur dalam 1 menit. Kasihan sekali anakku ini. Aduhhh gimana besok yah? Mana kerjaan lagi tidak bisa ditinggal. Semoga besok Dira sudah baik-baik saja.
Ketika pagi tiba, aku meraba tubuh dan kepala Dira. Alhamdulillah panasnya sudah turun. Dan sekitar pukul 5.30 si anak terbangun dan langsung minta gendong Mamanya. Dan saat aku berangkat kerja, seperti biasa Dira ikut mengantarku.
“Mama berangkat kerja dulu yah! Mau cari duit buat Dira nih. Dah.. dah… emuah..!”
Dira hanya tersenyum aku melambai. “Mama…”
(Semoga nanti malam keadaannya tidak seburuk semalam. Semoga Dira sembuh dan kecurigaanku tidak terbukti. Kasihan kamu Nak!)
Filed under: Tentang Dira | Tagged: sakit









udah sembuh nak?
Belum tante. Selasa malam turun demamnya, tp Rabu malam naik lagi. Mana Mamanya gak bisa bolos secara ada meeting sm tamu corporate. Hikss sedih deh.